Selama hampir lima semester, mahasiswa di Indonesia menjalani perkuliahan secara daring sebagai dampak dari pandemi COVID-19. Dalam periode ini, popularitas berbagai platform pembelajaran online, terutama Zoom, mengalami peningkatan yang signifikan. Meskipun Zoom dirancang untuk mendekatkan orang-orang yang terpisah jarak, aplikasi ini awalnya tidak ditujukan khusus untuk lingkungan pendidikan.
Eric Yuan, pendiri Zoom, mengembangkan aplikasi ini berdasarkan pengalamannya saat menjalani hubungan jarak jauh. Namun, perbedaan tujuan ini menyebabkan Zoom tidak sepenuhnya mampu menggantikan pengalaman interaktif ruang kelas, sehingga muncul masalah kebosanan di kalangan mahasiswa.
Dalam sebuah proyek di kelas “Politik dan Teknologi” di Universitas Gadjah Mada (UGM), mahasiswa diminta untuk mengisi catatan harian dan merefleksikan pengalaman mereka selama perkuliahan daring. Banyak dari mereka yang mengalihkan perhatian dengan kegiatan di luar kelas, seperti menonton TikTok atau berselancar di Twitter. Namun, yang menarik adalah bagaimana mereka mengadaptasi fitur chat box Zoom untuk menciptakan ruang alternatif di tengah kebosanan.
Di era digital, perhatian manusia, terutama kaum muda, cenderung memiliki rentang yang pendek. Rata-rata mahasiswa hanya mampu berkonsentrasi selama 30 menit hingga satu jam. Di dalam konteks ini, chat box Zoom berfungsi sebagai sarana untuk melawan rasa bosan. Awalnya, fitur ini digunakan untuk bertanya atau mengklarifikasi materi kuliah, namun seiring berjalannya waktu, mahasiswa mulai menggunakan chat box untuk bercanda dan berbagi lelucon.
Chat box berfungsi sebagai ruang kolektif bagi mahasiswa untuk berinteraksi secara non-formal. Ketika seorang mahasiswa membagikan lelucon, banyak yang merespons, menciptakan suasana yang lebih santai di samping perkuliahan resmi. Namun, saat ada mahasiswa yang serius menanggapi materi, respons dari yang lain cenderung minim. Dosen, di sisi lain, melihat chat box sebagai saluran untuk klarifikasi dan kadang ikut berpartisipasi dalam diskusi ringan.
Pembentukan teknologi, dalam hal ini Zoom, dipengaruhi oleh interaksi sosial dan penggunaan yang fleksibel. Chat box yang awalnya dirancang untuk tujuan tertentu telah bertransformasi menjadi ruang alternatif bagi mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana teknologi berfungsi dalam konteks sosial yang berbeda.
Dua poin penting muncul dari pengalaman mahasiswa menggunakan Zoom. Pertama, ada perluasan makna dan pengguna teknologi di luar tujuan awalnya. Kedua, interaksi manusia berperan dalam membentuk cara teknologi dimanfaatkan. Pengalaman ini mengingatkan kita bahwa desain teknologi tidak selalu sesuai dengan apa yang direncanakan oleh penciptanya, dan adaptasi sosial akan terus mengubah cara kita menggunakan teknologi.