Biennale Jogja XVI: Ruang Kreativitas Seniman Indonesia dan Oseania di Era Daring
Ruang Daring

Biennale Jogja XVI: Ruang Kreativitas Seniman Indonesia dan Oseania di Era Daring

Biennale Jogja XVI kembali hadir dengan membawa semangat seni kontemporer pada 6 Oktober hingga 14 November 2021. Acara ini diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan diorganisasikan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY). Sejak pertama kali digelar pada tahun 1988, Biennale Jogja telah menjadi salah satu pameran seni internasional terbesar di Indonesia yang berlangsung setiap dua tahun.

Gelaran tahun ini menjadi istimewa karena merupakan peringatan satu dekade proyek Biennale Jogja Seri Khatulistiwa, yang dimulai pada 2011. Dalam Biennale Jogja XVI dengan tema Equator #6, penyelenggara berupaya mempertemukan seniman Indonesia dengan seniman dari kawasan Oseania, yang dianggap dekat namun sering kali terpisah oleh jarak dan budaya.

Penyelenggaraan di Empat Lokasi

Acara ini akan berlangsung di empat lokasi berbeda, yaitu Jogja National Museum (JNM), Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Museum dan Tanah Liat (MDTL), serta Indie Art House. Selain menampilkan karya seniman Indonesia, Biennale Jogja XVI juga akan melibatkan seniman internasional dari berbagai negara, seperti India, Arab Saudi, Nigeria, Brasil, dan negara-negara di Asia Tenggara.

Penggunaan Teknologi dalam Pameran

Dengan memanfaatkan teknologi, pameran kali ini akan disajikan secara virtual. Menurut Direktur Yayasan Biennale Jogja, Alia Swastika, karya-karya seniman akan ditampilkan melalui platform permainan digital Minecraft. Ini menunjukkan bagaimana seni, pengetahuan, dan teknologi digital dapat saling berinteraksi dalam konteks sejarah.

Eksplorasi Budaya Indonesia Timur

Persiapan Biennale Jogja kali ini dimulai sejak pertengahan 2020. Kurator Elia Nurvista dan Ayos Purwoaji melakukan riset di Indonesia Timur, yang dianggap memiliki kesamaan budaya dengan Oseania. Ayos Purwoaji menyatakan bahwa meskipun acara berlangsung di tengah pandemi, kegiatan ini memungkinkan koordinasi di empat kota lain di Indonesia Timur melalui internet.

Keterlibatan Seniman dan Komunitas

Biennale Jogja XVI melibatkan sekitar 34 seniman dan komunitas dari berbagai daerah di Indonesia, serta seniman dari Selandia Baru, Australia, Thailand, Kamboja, dan negara lainnya. Tema utama pameran, Roots < > Routes, akan mengeksplorasi hubungan antara Indonesia sebagai negara kepulauan dan Oseania, termasuk aspek sejarah, budaya, dan situasi sosial politik kontemporer.

Program Daring untuk Publik

Dalam menghadapi kondisi pandemi COVID-19, sebagian besar program acara Biennale Jogja XVI akan disiarkan secara daring. Informasi lebih lanjut dan jadwal acara dapat diakses melalui situs resmi Biennale Jogja dan media sosial mereka. Meskipun keterbatasan pengunjung di lokasi fisik, penyelenggara berkomitmen untuk menyediakan pengalaman seni yang dapat diakses oleh masyarakat luas.

Dengan semangat kolaborasi dan eksplorasi budaya, Biennale Jogja XVI diharapkan dapat menjadi ruang dialog yang produktif antara seniman dan intelektual dari Indonesia dan Oseania.

You can share this post!