BRIN Kembangkan Startup Energi Bersih dari Gas Metana Limbah Sawit
Pusat Online

BRIN Kembangkan Startup Energi Bersih dari Gas Metana Limbah Sawit

Jakarta, HAISAWIT – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mempersiapkan pendirian sebuah startup yang akan memanfaatkan gas metana dari pengolahan limbah kelapa sawit sebagai alternatif energi bersih. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada LPG impor.

Langkah ini merupakan hasil kolaborasi antara Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN dengan dua mitra asal Jepang, Yachiyo Engineering Co., Ltd. dan Atomis Inc., yang diperkenalkan dalam acara Talkshow InaRI Expo 2025 di JIExpo Kemayoran pada Rabu, 29 Oktober 2025.

Inovasi Penyimpanan Gas Metana

Kepala Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Joddy Arya Laksmono, menjelaskan bahwa inovasi yang sedang dikembangkan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi energi rumah tangga dengan memanfaatkan sumber daya lokal, termasuk limbah sawit. “Tekanan gas metana ini hampir setara dengan LPG, namun volumenya bisa mencapai satu setengah kali lipat dari LPG. Dengan tambahan material MOF, gas metana dapat disimpan dalam wadah yang lebih kecil sehingga lebih mudah didistribusikan,” ungkap Joddy.

Target Produksi Komersial

BRIN menargetkan agar teknologi ini dapat diproduksi secara komersial melalui startup berbasis riset pada tahun 2027. Joddy menambahkan bahwa pengembangan inovasi ini memerlukan dukungan dari regulasi untuk dapat diimplementasikan secara luas. “Kami sedang berkoordinasi dengan BSN untuk segera menyusun RSNI, sehingga teknologi ini dapat diterapkan secara luas,” jelasnya.

Kolaborasi Internasional untuk Kemandirian Energi

Dari pihak mitra Jepang, Hajime Watanabe dari Yachiyo Engineering menyatakan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk mendukung kemandirian energi di Indonesia dengan memanfaatkan sumber metana lokal. “Sebagian besar LPG 3 kilogram di Indonesia masih berasal dari impor, yang membebani anggaran subsidi. Namun, Indonesia memiliki potensi besar dari gas alam, biogas, dan metana,” ujarnya. Watanabe juga menambahkan bahwa sistem penyimpanan berbasis kontainer dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan hingga tiga kali lipat dibandingkan sistem konvensional.

Penerapan Teknologi Digital

Dalam proyek ini, penerapan teknologi digital juga dianggap penting. Watanabe menekankan bahwa distribusi gas metana dapat dipantau secara real-time untuk memastikan efisiensi dan keamanan.

Pentingnya Penyesuaian Material

Daisuke Asari dari Atomis Inc. menjelaskan bahwa penyesuaian material penyerap gas sangat penting untuk memastikan proses adsorpsi dan desorpsi metana berjalan optimal sebelum diuji coba di pasar. “Penyesuaian ini penting agar proses adsorpsi-desorpsi berjalan optimal sebelum diuji coba ke pasar,” tuturnya.

Peluang Pengembangan Energi dari Limbah Sawit

Sementara itu, Direktur Manajemen Kekayaan Intelektual BRIN dan Ketua Biogas Indonesia, Muhammad Abdul Kholiq, menilai bahwa potensi metana dari limbah sawit sangat besar untuk dikembangkan sebagai sumber energi alternatif. “Limbah pabrik kelapa sawit seperti Palm Oil Mill Effluent (POME) dan Empty Fruit Bunch (EFB), serta sampah perkotaan di Jakarta yang mencapai 7.500 ton per hari, merupakan sumber metana yang sangat potensial,” katanya.

Sejumlah peneliti menilai bahwa riset pengolahan metana dari limbah sawit dapat membuka peluang kolaborasi antara sektor riset dan industri energi nasional, serta mendorong pemanfaatan sumber energi terbarukan di daerah penghasil sawit.

You can share this post!