Portal Media Online - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap hasil penelitian tentang pemanfaatan produk samping kelapa sawit, khususnya Palm Fatty Acid Distillate (PFAD), sebagai bahan baku farmasi. Fokus dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan nilai tambah PFAD yang selama ini digunakan terbatas pada industri sabun dan biodiesel.
Penelitian ini dilakukan di Cibinong, Jawa Barat, dengan menghasilkan inovasi nanoemulsi tokotrienol yang memiliki ukuran partikel sangat kecil, yaitu 64 nanometer. Ukuran ini dirancang agar lebih mudah larut dalam air dan diserap oleh tubuh manusia.
Metode yang digunakan dalam penelitian meliputi high energy approach dengan alat high speed homogenizer dan ultrasonikasi untuk memastikan stabilitas dan kualitas produk suplemen kesehatan yang dinamakan Nanovite E. Formulasi suplemen ini mengandung fraksi tokotrienol dari PFAD, minyak kelapa sawit murni, surfaktan Twin 80, dan aquades.
PFAD dipilih karena mengandung vitamin E jenis tokotrienol tertinggi dibandingkan minyak nabati lainnya di pasar. Teknologi nanoemulsi menjadi kunci untuk mengubah karakteristik tokotrienol yang sulit larut dalam air agar dapat berfungsi sebagai sistem penghantar obat.
Tim Pusat Vaksin dan Obat (PVO) melakukan pengujian bioaktivitas yang ketat, termasuk pengujian sitotoksik terhadap sel kanker manusia, peningkatan sistem imunitas pada sel imun, serta uji efektivitas pada hewan model. Hasil pengujian menunjukkan bahwa formulasi berbasis sawit ini mampu melawan beberapa jenis sel kanker manusia dan mendukung sistem kekebalan tubuh.
Uji in vitro menunjukkan penurunan perkembangan sel abnormal pada hewan uji yang terinduksi kanker. Penelitian ini membuka peluang bagi Indonesia sebagai produsen utama Crude Palm Oil (CPO) untuk tidak hanya bergantung pada sektor pangan dan energi terbarukan, tetapi juga sektor kesehatan. Karakterisasi menggunakan perangkat Talos F200G memastikan bahwa ukuran partikel memenuhi standar mutu farmasi internasional, menjadikan sektor farmasi nasional memiliki alternatif bahan baku lokal yang kompetitif.