Pada Cisco AI Summit yang berlangsung awal Februari 2026, Matt Garman, CEO Amazon Web Services (AWS), membagikan pandangannya mengenai masa depan infrastruktur kecerdasan buatan. Di tengah ledakan penggunaan teknologi AI, Garman menilai gagasan untuk memindahkan pusat data ke orbit masih dianggap 'cukup mengada-ada'.
Garman menyatakan bahwa tantangan dalam meluncurkan server dan peralatan ke luar angkasa menjadikan ide tersebut tidak realistis dalam waktu dekat. "Saat ini, kita belum memiliki cukup roket untuk meluncurkan satu juta satelit, jadi kita masih jauh dari tujuan itu," ujarnya ketika ditanya mengenai kelayakan proyek pusat data luar angkasa.
Faktor biaya juga menjadi perhatian utama Garman. Ia menjelaskan bahwa meluncurkan muatan ke luar angkasa saat ini memerlukan anggaran yang sangat besar dan tidak layak secara ekonomi. "Saya tidak tahu apakah Anda pernah melihat rak server baru-baru ini: rak server sangat berat," tambahnya, menggarisbawahi hambatan fisik yang dihadapi.
Berdasarkan pengamatannya, manusia belum membangun struktur permanen di luar angkasa. Dengan lebih dari 900 pusat data yang tersebar di seluruh dunia, AWS berkomitmen untuk terus memelihara dan mengembangkan infrastruktur berbasis daratnya.
Pernyataan skeptis Garman muncul sehari setelah Elon Musk mengumumkan rencana untuk menggabungkan perusahaan roketnya, SpaceX, dengan perusahaan kecerdasan buatan, xAI. Musk berpendapat bahwa pusat data luar angkasa sangat penting untuk memenuhi permintaan daya global yang meningkat terkait dengan kecerdasan buatan.
Musk percaya bahwa memindahkan pusat data ke luar angkasa akan memanfaatkan energi matahari secara langsung dan menggunakan suhu rendah di luar angkasa untuk mendinginkan peralatan, yang selaras dengan ambisinya untuk membangun peradaban di Mars. Google pun tidak ketinggalan, dengan peluncuran "Project Suncatcher" pada November 2025 yang bertujuan untuk melakukan uji penerbangan pusat data orbital.
Meski mengakui potensi manfaat dari energi dan pendinginan, serta kemungkinan pengurangan biaya transportasi di masa depan, Garman tetap berpendapat bahwa biaya saat ini terlalu tinggi untuk diatasi. Meskipun demikian, Amazon tetap terlibat dalam penelitian luar angkasa melalui Blue Origin, perusahaan yang didirikan oleh Jeff Bezos, serta investasi sebesar $10 miliar dalam proyek satelit "Leo", meski perkembangan proyek tersebut mengalami kemunduran dan memerlukan perpanjangan tenggat waktu peluncuran.