Dampak Kontrol dan Sensor Daring terhadap Ruang Demokrasi Digital di Asia Tenggara
Ruang Daring

Dampak Kontrol dan Sensor Daring terhadap Ruang Demokrasi Digital di Asia Tenggara

Dalam beberapa tahun terakhir, kepercayaan bahwa internet merupakan ruang yang membebaskan untuk ekspresi dan partisipasi politik telah menghadapi tantangan serius. Kontrol pemerintah, penyensoran, dan pengawasan komunikasi politik daring telah menciptakan atmosfer yang semakin mengekang kebebasan berekspresi di kalangan netizen, terutama di Asia Tenggara.

Aktivis dan pembangkang di kawasan ini sering kali berisiko menghadapi penganiayaan hukum akibat pandangan kritis yang mereka sampaikan secara daring. Hal ini menyebabkan internet, yang seharusnya menjadi platform untuk demokrasi dan diskusi terbuka, beralih menjadi ruang yang semakin tidak demokratis.

Dalam sebuah webinar yang diselenggarakan pada 12 Oktober 2020, para pembicara membahas berbagai bentuk kontrol dunia maya dan sensor yang terjadi di Asia Tenggara. Diskusi ini juga menyoroti dampak negatif dari praktik-praktik tersebut terhadap debat politik terbuka di dunia maya, serta strategi yang digunakan oleh netizen untuk merespons dan menghindari kontrol tersebut.

Topik yang Dibahas dalam Webinar

  • Ulasan tentang situasi terkini terkait kontrol dan sensor daring di Asia Tenggara.
  • Dampak dari internet shutdown sebagai kebijakan baru untuk menyensor informasi di Indonesia.
  • Strategi yang diterapkan oleh netizen untuk menghadapi sensor dan mempertahankan ruang untuk diskusi demokratis.

Webinar ini dipimpin oleh Dr. Benjamin Loh dan menghadirkan beberapa pembicara ahli, termasuk Direktur Eksekutif SAFEnet, Damar Juniarto, yang membahas tema "Internet Shutdown in Indonesia: The New Normal Policy to Censor Information Online?".

You can share this post!