Perbesar
Ketik
Cari
Apa dampak potensial konflik Timur Tengah terhadap dunia usaha Indonesia?
Mengapa penutupan Selat Hormuz sangat krusial bagi pasokan energi global?
Seberapa besar ketergantungan Indonesia pada impor minyak dan dampaknya?
Liputan6.com, Jakarta - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel dibantu Amerika Serikat (AS) berpotensi menjadi shock eksternal serius bagi dunia usaha di Indonesia, terutama melalui jalur energi dan logistik karena adanya Selat Hormuz ditutup.
Sekitar 30% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz dan lebih dari 20% perdagangan LNG global berasal dari kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, Indonesia masih mengimpor sekitar 750–800 ribu barel minyak per hari, sehingga sangat rentan terhadap gejolak harga energi global.
Artikel mengenai Selat Hormuz Ditutup Bikin Pengusaha Indonesia Cemas ini menjadi salah satu artikel yang banyak dibaca. selain itu masih ada sejumlah artikel lain yang layak untuk disimak.
Lengkapnya, berikut ini tiga artikel terpopuler di kanal bisnis Liputan6.com pada Senin (2/3/2026):
1. Selat Hormuz Ditutup, Pengusaha Cemas Biaya Logistik Meledak dan Margin Usaha Tergerus
Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel dibantu Amerika Serikat (AS) berpotensi menjadi shock eksternal serius bagi dunia usaha di Indonesia, terutama melalui jalur energi dan logistik karena adanya Selat Hormuz ditutup.
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira menjelaskan, kawasan tersebut merupakan episentrum produksi energi global sehingga setiap gangguan, termasuk penutupan Selat Hormuz, akan berdampak langsung pada stabilitas biaya produksi nasional.
Ia memaparkan, sekitar 30% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz dan lebih dari 20% perdagangan LNG global berasal dari kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, Indonesia masih mengimpor sekitar 750–800 ribu barel minyak per hari, sehingga sangat rentan terhadap gejolak harga energi global.
Baca artikel selengkapnya di sini
2. Selat Hormuz Ditutup, AS Minta Kapal Berbendera Amerika Hindari Area Konflik
3. AS Serang Iran, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD 100 per Barel
Perbesar
Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan minyak global. Negara anggota OPEC tersebut merupakan produsen minyak terbesar keempat di kartel, dengan produksi lebih dari 3 juta barel per hari pada Januari lalu.
Risiko terbesar muncul dari potensi gangguan di Selat Hormuz—jalur pelayaran paling vital dalam perdagangan minyak dunia. Iran berbagi garis pantai dengan selat tersebut, yang menjadi jalur utama ekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar global.
Pasar minyak selama ini dinilai cenderung mengabaikan risiko gangguan pasokan di kawasan tersebut. Namun, mantan penasihat energi Gedung Putih di era Presiden George W. Bush, Bob McNally, memperingatkan ancaman kali ini tidak bisa dianggap remeh.
Baca artikel selengkapnya di sini