JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai seorang pemimpin perempuan di PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Dian Siswarini memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perusahaan menuju transformasi.
Menurut dia, kepercayaan untuk memimpin perusahaan telekomunikasi pelat merah ini merupakan mandat yang besar.
Sebelumnya, Dian memang telah malang melintang dan menjadi nakhoda di tempat lain, tetapi ia banyak berkarya di sektor telekomunikasi swasta.
Hal tersebut disampaikan dalam program Naratama dengan host Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin.
"Waktu mendapatkan mandat ini, saya sudah lihat pasti ekosistemnya berbeda, kemudian perusahaannya punya kebudayaan yang berbeda," ucap dia.
Sebagai catatan, Dian Siswarini adalah direktur utama perempuan pertama di Telkom Group Indonesia.
Waktu menerima mandat ini, Dian telah mendapatkan misi khusus untuk melakukan transformasi perusahaan.
"Jadi bukan hanya diminta memimpin, tetapi juga mentransformasi," imbuh dia.
Kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara membuat perusahaan BUMN harus menjadi sebuah entitas yang lebih progresif, agile, dan beroperasi seperti sektor swasta.
Pengalaman Dian Siswarini dinilai sesuai dengan transformasi yang diinginkan pemerintah.
Dian sendiri mengawali karier di industri satelit dan lama berkecimpung di industri seluler.
Belajar dari industri telekomunikasi Malaysia
Waktu berkarier di Malaysia sebagai Group Chief Marketing and Operation Officer pada suatu perusahaan seluler, ia menyadari bahwa tahapan perkembangan evolusi telekomunikasi di banyak negara itu serupa.
Waktu itu, ia menangani anak perusahaan yang memiliki bisnis seluler hingga tower seluler di sembilan negara termasuk Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal, hingga India.
Dari pengalaman itu, ia lantas membandingkan apa yang membedakan evolusi telekomunikasi di negara yang lebih maju hingga yang berada di belakang Indonesia.
"Kalau dilihat dari pergerakan atau evolusi itu, _step_ -nya sama, yang membedakan hanya waktu," terang dia.
Dian memberi contoh, Singapura mungkin tampak lebih maju dengan adopsi teknologi telekomunikasi.
Namun tahapan yang dilalui tak jauh berbeda dengan yang terjadi di negara lain.
Ia memberikan gambaran, fenomena yang terjadi di Malaysia dua tahun lalu, saat ini baru terjadi di Indonesia.