RRI.CO.ID, Surakarta - Dari sebuah desa di Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, seorang perempuan penyandang disabilitas daksa serebral ringan membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir perjalanan. Melalui Kelompok Disabilitas Desa (KDD) Diva Daya dan usaha Diva Jiwa Snack, Dwi Lestari menggerakkan 44 penyandang disabilitas untuk bangkit, berdaya, dan percaya diri di tengah stigma masyarakat.
“Saya seorang perempuan dengan disabilitas daksa serebral ringan. Saya masih bisa beraktivitas seperti biasa. Sehari-hari saya berjualan keripik sukun dan keripik usus,” kata Dwi dalam Obrolan Asta Cita Pro 4 RRI Surakarta.
Sejak 2019, ia memimpin kelompok disabilitas di Desa Kedung Jambal. Menaungi berbagai ragam disabilitas, termasuk 15 orang dengan disabilitas psikososial (ODDP).
Dari sekitar 40 orang yang terdata, lahirlah kelompok yang semula bernama SHG (Self Help Group) sebelum berganti menjadi KDD agar lebih mudah dipahami anggota. Pandemi 2020 menjadi momentum lahirnya Diva Jiwa Snack.
Berkat kolaborasi dengan komunitas dan dukungan berbagai pihak, kelompok ini mulai memproduksi keripik sukun aneka rasa, keripik usus, hingga camilan lainnya. “Saya hanya memfasilitasi. Nanti teman-teman yang menjual. Itu kan punya mereka,” ucap Dewi. Menurutnya seiring tumbuhnya KDD, pemerintah setempat juga semakin memahami seperti apa kelompok inklusi sehingga pemberdayaannya juga lebih efektif.
Namun, proses pemberdayaan tidak mudah. Tantangan terbesar adalah membangun kepercayaan diri anggota yang sebagian besar tidak pernah mengenyam pendidikan formal. “Yang paling terasa itu mengajari A B C dari nol. Benar-benar seperti mengajari anak TK. Tapi harus sabar,” ujarnya. Anggota yang kondisinya stabil dilibatkan dalam produksi, sementara lainnya belajar dari tahap sederhana seperti menimbang dan menempel stiker kemasan.
Mayoritas anggota KDD adalah penyandang disabilitas psikososial yang sebelumnya kerap disembunyikan keluarga atau dijauhi lingkungan. Dwi melakukan pendekatan melalui home visit, mengedukasi keluarga agar tidak lagi menutup akses sosial mereka.
Perlahan, perubahan mulai terlihat. Anggota kini rutin kontrol kesehatan, lebih aktif berinteraksi, bahkan ada yang mengikuti pelatihan kerja di BLK Sukoharjo. “Mereka jadi lebih sering gumul. Ada yang bilang, ‘Mbak, aku sudah kerja.’ Itu kebahagiaan luar biasa,” katanya.
Dukungan pemerintah desa, PSM, dan Puskesmas Tawangsari turut memperkuat gerakan ini, mulai dari fasilitasi pertemuan rutin hingga pendampingan kesehatan. Meski stigma belum sepenuhnya hilang, Dwi yakin perubahan sosial sedang tumbuh. “Disabilitas itu bukan akhir dari segalanya. Yang penting percaya diri dan yakin pada kemampuan diri sendiri. Stop stigma terhadap disabilitas,” ujarnya.