Portal Media Online - Laporan United States Department of Agriculture (USDA) untuk periode 2025/2026 menyoroti Guatemala dan Papua Nugini sebagai produsen potensial yang dapat memperkuat pasokan minyak sawit global, meskipun kedua negara ini belum mencapai skala produksi seperti negara-negara besar di Asia Tenggara.
Guatemala dan Papua Nugini mulai mengambil peran penting dalam perdagangan internasional minyak sawit. Guatemala diperkirakan akan memproduksi sekitar 1 juta ton, dengan fokus pada orientasi ekspor yang kuat. Sementara itu, Papua Nugini diprediksi menghasilkan antara 800 hingga 850 ribu ton dan mengekspor sebagian besar hasil produksinya.
Keberadaan kedua produsen ini memberikan alternatif bagi negara pengimpor di tengah struktur pasar yang terpusat. Indonesia dan Malaysia masih mendominasi produksi, masing-masing menghasilkan 46 juta ton atau 58 persen dari total produksi global dan sekitar 19 hingga 19,5 juta ton. Thailand menyuplai 3,3 juta ton, sedangkan Kolombia memimpin di Amerika Latin dengan 1,9 juta ton.
Minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) tetap menjadi komoditas strategis dunia pada tahun 2026, digunakan di berbagai sektor industri. Stabilitas pasokan global masih ditentukan oleh Indonesia dan Malaysia yang menyuplai 85 persen produksi. Tantangan mendatang bagi industri meliputi praktik keberlanjutan dan peningkatan produktivitas lahan, yang akan mempengaruhi arah industri kelapa sawit global.