Surabaya - Setiap 3 Desember dunia memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI) merupakan hari yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1992 lewat resolusi 47/3. Tujuan awalnya adalah mengangkat kesadaran global terhadap hak dan martabat penyandang disabilitas serta mendorong langkah nyata agar mereka bisa berpartisipasi penuh di semua aspek kehidupan: sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, hingga politik.
Sepanjang sejarahnya, dari gelombang kampanye hak disabilitas di era 1980-an sampai adopsi Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) 2006, peringatan ini terus menjadi momen refleksi global. Tahun 2025 seperti tahun-tahun sebelumnya HDI mengundang kita untuk meninjau kembali seberapa jauh inklusi telah berjalan dan apa pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan.
Tema 2025: Mendorong Masyarakat Inklusif demi Kemajuan Sosial
Untuk 2025, PBB menetapkan tema: “Fostering disability-inclusive societies for advancing social progress.” Tema ini bukan hanya slogan, melainkan panggilan bagi setiap negara, komunitas, institusi, dan individu agar menjadikan inklusi disabilitas sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan sosial dan kemanusiaan.
Dalam pidatonya, Sekretaris-Jenderal PBB menekankan bahwa penyandang disabilitas bukan sekadar penerima bantuan, melainkan pelaku perubahan. Banyak inovasi yang muncul dari aplikasi aksesibilitas sampai desain inklusif yang lahir dari kebutuhan nyata komunitas disabilitas. Tema 2025 mengajak kita melihat disabilitas bukan dari lensa beban, tetapi peluang untuk membangun masyarakat yang lebih adil, manusiawi, dan adaptif terhadap keberagaman.
Komitmen Institusi: Contoh dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
Di Indonesia, beberapa perguruan tinggi menunjukkan komitmen nyata terhadap inklusi. Salah satu contohnya adalah UNESA, yang melalui direktorat disabilitas aktif menginisiasi program bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Beberapa tahun terakhir mereka telah mengadakan pelatihan kepemimpinan, pendampingan mahasiswa baru disabilitas.
Tidak hanya itu, UNESA juga menyelenggarakan “Edufair” untuk membuka ruang bakat dan potensi bagi mahasiswa difabel, serta menjalin kerja sama dengan instansi sosial dan organisasi difabel. Langkah-langkah ini menjadi contoh bagaimana kampus bisa berperan aktif dalam mewujudkan inklusi di tingkat pendidikan tinggi dengan menjadikan disabilitas bukan halangan, melainkan bagian keberagaman kampus.
Mengapa Peringatan Hari Disabilitas Masih Relevan? Tantangan & Realitas
Meski sudah 33 tahun sejak HDI dicanangkan, kenyataan di lapangan masih jauh dari ideal. Banyak penyandang disabilitas di Indonesia dan dunia masih menghadapi hambatan struktural: akses pendidikan terbatas, pekerjaan yang sulit, fasilitas publik dan transportasi yang belum ramah akses, serta diskriminasi dalam kehidupan sosial.
Laporan terbaru dari PBB menunjukkan bahwa apabila inklusi disabilitas diabaikan, maka upaya mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) bisa terhambat. Inilah mengapa tema 2025 menyuarakan bahwa inklusi harus menjadi bagian sentral dalam pembangunan sosial agar kemajuan bisa dirasakan semua manusia, tanpa terkecuali.
Perspektif untuk Mahasiswa dan Masyarakat Awam: Peran Kita Bersama
Bagi mahasiswa, Hari Disabilitas Internasional adalah panggilan untuk refleksi dan aksi. Pendidikan tinggi bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang membentuk manusia berempati dan berkeadilan. Kamu bisa ikut membuka dialog inklusif di kampus, mendukung aksesibilitas fasilitas, atau terlibat di himpunan/organisasi mahasiswa difabel.
Bagi masyarakat awam, penting untuk menyadari bahwa disabilitas bukan semata soal fisik atau kekurangan. Disabilitas adalah bagian dari keragaman manusia. Memberi ruang, akses, dan menghormati hak penyandang disabilitas adalah tanggung jawab kita bersama. Hal kecil seperti menghargai kursi khusus, mendukung sekolah inklusif, atau ikut kampanye inklusi bisa memberi dampak besar.
Lebih dari itu, kegiatan bernilai sosial seperti membantu penyediaan alat bantu, mendukung kebijakan inklusif di lingkungan sekitar, atau menyuarakan aksesibilitas di publik dapat memperkuat rasa kebersamaan dan empati yang penting bagi masyarakat yang peduli difabel.