Portal Media Online - India berencana menjadikan dirinya sebagai pusat global untuk kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur komputasi awan, namun menghadapi tantangan besar terkait kebutuhan energi dan air dari pusat data AI.
Pemerintah India baru-baru ini mengumumkan pembebasan pajak selama dua dekade bagi perusahaan teknologi asing yang menggunakan pusat data di negara tersebut untuk menyediakan layanan kepada pelanggan di luar negeri. Kebijakan ini tidak berlaku untuk layanan yang diberikan kepada klien di India, yang tetap akan dikenakan pajak.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya India untuk menarik investor ke sektor infrastruktur digital yang berkembang pesat. Sebelumnya, pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi telah meluncurkan berbagai insentif, termasuk memberikan status infrastruktur bagi pusat data untuk mempercepat pengembangannya. Selain itu, beberapa pemerintah negara bagian telah melonggarkan aturan penggunaan lahan. Rencana investasi AI ini juga didukung oleh konglomerat India seperti Reliance Industries, Adani Enterprises, dan Tata Group, yang telah berkomitmen untuk berinvestasi miliaran dolar dalam infrastruktur AI.
Meskipun investasi ini berpotensi menciptakan ribuan lapangan kerja dan memposisikan India sebagai pemimpin global dalam AI, terdapat kekhawatiran terkait dampak lingkungan dari pusat data yang boros energi. Pusat data ini memerlukan pasokan listrik dan air yang besar untuk mendinginkan server, yang menjadi tantangan bagi kota-kota di India yang sudah menghadapi masalah kekurangan air. Pengamat juga mencatat penolakan masyarakat terhadap pusat data akibat penggunaan listrik yang sangat besar, sementara infrastruktur di kota-kota seperti Mumbai dan Chennai masih menjadi kendala.