Iran Tolak Tuntutan AS, Risiko Perang di Timur Tengah Meningkat
Internasional

Iran Tolak Tuntutan AS, Risiko Perang di Timur Tengah Meningkat

Portal Media Online - PRIORITAS, 27/2/26 (Jenewa): Kekhawatiran pecah perang hebat di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, semakin mendekati kenyataan, setelah sudah tiga kali perundingan soal nuklir Iran belum membuahkan hasil memuaskan.

Delegasi Iran dalam negosiasi ketiga di Jenewa, Swiss, selama tiga jam, bahkan menolak tuntutan Presiden AS, Donald Trump untuk pembongkaran sepenuhnya dan penghentian pengayaan uranium Iran menjadi senjata nuklir.

Informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com hari Jumat (27/2/26), putaran ketiga perundingan tak langsung Iran dan AS itu, hanya disebutkan pintu diplomasi tetap terbuka, tetapi perbedaan utama masih belum terselesaikan.

Meski terkesan bertele-tele dan berkali-kali pindah lokasi, Iran mengusulkan perundingan keempat dilakukan di tempat baru lagi, di Wina pada pekan depan.

Walaupun para pejabat senior AS menggambarkan putaran ketiga sebagai “positif”, pemerintah Iran melaporkan Teheran akan terus memperkaya uranium dan menolak usulan untuk mentransfernya ke luar negeri.

Menurut media Fox News, laporan tersebut mengklaim Iran juga akan mendorong pencabutan sanksi internasional. Ini menandakan mereka tidak siap untuk memenuhi tuntutan Presiden Donald Trump.

Para ahli memperingatkan meskipun pembicaraan tidak langsung mencapai kemajuan seperti yang dilaporkan mediator Oman, keretakan mendasar antara Iran dan AS tetap tidak dapat dijembatani, sehingga risiko konfrontasi militer tetap sangat tinggi.

Iran tolak nego soal rudal

Negosiasi tersebut sebagian besar dilakukan secara tidak langsung, dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Oman, Badr bin Hamad Albusaidi menyampaikan pesan terpisah dari kedua belah pihak.

Utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, menghadiri negosiasi tak langsung dengan Menlu Iran, Abbas Araghchi itu.

Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA) atau Badan Tenaga Atom Intenasional sebagai pengawas semua situs nuklir dunia, Rafael Grossi, juga terlibat.

Para pejabat Iran mempresentasikan draf proposal untuk potensi perjanjian nuklir dengan AS, yang memiliki tuntutan utama.

Iran bersikeras mereka memiliki hak untuk memperkaya uranium bahan utama pembuatan senjata nuklir.

Mereka juga menolak untuk bernegosiasi mengenai isu-isu lain, termasuk program peluru kendali (rudal) jarak jauhnya dan dukungan terhadap kelompok-kelompok proxy bersenjata, seperti Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman serta sejumlah militan Irak.

Tiga fasilitas nuklir

Presiden AS bersikeras pada kesepakatan untuk mengekang program nuklir Iran.

Dalam pidato kenegaraannya pada 24 Februari lalu, presiden Trump mengatakan ia lebih menyukai solusi diplomatik, namun tidak menutup kemungkinan serangan militer ke Iran.

“Saya lebih memilih menyelesaikan masalah ini melalui diplomasi, tetapi satu hal yang pasti: saya tidak akan pernah membiarkan sponsor teror nomor satu di dunia, memiliki senjata nuklir. Tidak bisa membiarkan itu terjadi”, tegas Trump merujuk pada Iran.

Sebuah laporan dari The Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS, mengatakan Washington menuntut agar Iran menerima kesepakatan tanpa batas waktu.

AS menetapkan persyaratan yang berat termasuk menutup tiga fasilitas nuklir utama Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan, serta mentransfer semua uranium yang diperkaya yang tersisa ke Amerika Serikat.

Laporan tersebut menyebutkan Amerika Serikat hanya menawarkan keringanan sanksi terbatas pada awal setiap kesepakatan, dengan kemungkinan pelonggaran lebih lanjut jika Iran mematuhi ketentuan dari waktu ke waktu.

Dua kapal induk

Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat, karena Presiden Trump sudah mengerahkan dua kapal Induk dan puluhan kapal perang lainnya ke perairan dekat Iran.

AS juga menempatkan sekitar 300 pesawat tempur berbagai jenis di sejumlah pangkalan di Israel, Qatar, Yordania, Arab Saudi dan Turki.

Kapal induk USS Abraham Lincoln bahkan sudah siaga di Laut Arab hampir satu bulan. Sedangkan kapal induk terbesar AS, USS Gerald R Ford, kini sudah memasuki perairan Israel.

Kapal induk bertenaga nuklir AS itu berangkat dari fasilitas angkatan laut NATO di Teluk Souda di pulau Kreta, Yunani, pada Kamis pagi.

Menurut laporan media AS, kapal induk tersebut tiba di Teluk Souda pada 23 Februari lalu untuk pengisian ulang persediaan, setelah mengalami kerusakan berulang pada sistem pembuangan limbah di dalamnya.

Kapal induk Gerald R. Ford, yang diluncurkan tahun 2017, memiliki panjang 334 meter, dengan bobot lebih dari 100.000 ton dan awak hampir 4.600 orang. (P-Jeffry W)

You can share this post!