Otoritas junta Myanmar telah memulai tindakan tegas dengan menghancurkan lebih dari seratus bangunan yang digunakan sebagai pusat operasi penipuan daring di berbagai wilayah negara tersebut. Tindakan ini diambil setelah pihak berwenang mengidentifikasi bangunan-bangunan yang sering dijadikan sebagai basis oleh sindikat kriminal.
Menurut pernyataan resmi dari otoritas penerangan Myanmar, sebanyak 101 bangunan telah berhasil dihancurkan, sementara 47 bangunan lainnya dijadwalkan untuk dibongkar dalam waktu dekat. Banyak dari bangunan ini dilaporkan dikelola oleh sindikat yang mempekerjakan orang asing, yang sebagian besar mengklaim sebagai korban perdagangan manusia dan dipaksa terlibat dalam skema penipuan daring yang menargetkan korban di seluruh dunia.
Pihak otoritas Myanmar menegaskan komitmen mereka untuk bekerja sama secara aktif dengan negara-negara tetangga serta organisasi internasional dalam upaya mengenali dan menahan individu-individu yang terlibat dalam aktivitas penipuan daring. Penyelidikan dan penangkapan terhadap warga asing yang terkait dengan operasi tersebut juga sedang berlangsung.
Sementara itu, di Kamboja, Perdana Menteri Hun Manet bertemu dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, untuk membahas kolaborasi dalam memerangi penipuan daring. Pertemuan ini digelar menyusul insiden tragis di mana seorang mahasiswa Korea Selatan dilaporkan disiksa hingga tewas oleh sindikat penipuan daring setelah tertipu oleh tawaran kerja palsu.
Insiden tersebut memicu penyelidikan mendalam di Korea Selatan dan mendorong pemerintah Seoul untuk meningkatkan upaya dalam menghadapi kejahatan lintas batas. Dalam pertemuan tersebut, kedua pejabat sepakat untuk memperkuat kemitraan strategis dalam menangani penipuan lintas batas dan meningkatkan kerja sama di berbagai bidang.
PM Kamboja juga menjamin bahwa keselamatan dan keamanan warga negara Korea Selatan yang tinggal dan bekerja di Kamboja akan tetap menjadi prioritas bagi pemerintah Phnom Penh. Selain itu, sebuah gugus tugas baru telah dibentuk di Kamboja untuk menyelidiki jaringan penipuan daring yang menargetkan warga negara Korea Selatan, sebagai tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya antara PM Manet dan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung.