Kafe Kopi Kamu: Ruang Berkarya bagi Penyandang Down Syndrome
Sosial

Kafe Kopi Kamu: Ruang Berkarya bagi Penyandang Down Syndrome

Lihat Foto

Vanessa (18) dengan bangga menunjukkan pin bertuliskan Saya Penyandang Down Syndrome di Kafe Kopi Kamu Jaksel. Kamis (19/2/2026).(KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN )

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah kafe bergaya klasik berwarna putih dengan pilar-pilar tinggi di bagian depan nampak cukup mencolok di Jalan Wijaya I Nomor 62, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Papan nama “KOPIKAMU” terpasang di atas kanopi merah marun. Dua lampion merah menggantung di teras, memberi sentuhan hangat sekaligus nuansa oriental yang kontras dengan fasad kolonialnya.

Begitu pintu dibuka, suasana terasa intim dan homey. Area bar berada tepat di depan, dengan rak kayu berisi botol sirup, biji kopi, serta peralatan seduh tersusun rapi.

Lampu gantung kaca berwarna-warni menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya lembut ke dinding yang dihiasi foto-foto dan pigura sertifikat.

Di salah satu sisi, terdapat rak buku kayu berisi koleksi buku dan pajangan kecil, menambah kesan seperti ruang tamu pribadi.

Bagian dalam kafe didominasi lantai kayu dan meja kursi rotan.

Meja bundar besar di tengah ruangan menjadi titik kumpul, sementara beberapa meja kecil di sudut ruangan ditempati pelanggan yang berbincang santai.

Dinding belakang dipenuhi coretan dan pesan tangan pengunjung, menciptakan kesan hangat dan personal.

Aroma kopi yang baru digiling langsung menyambut ketika Kompas.com melangkah masuk ke Kafe, sebuah ruang hangat bernuansa klasik di Jalan Wijaya I Nomor 62, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Di balik meja bar, para barista mengenakan kemeja hitam dengan celemek cokelat keemasan.

Di dada mereka terpasang pin berwarna pink bertuliskan, “Saya penyandang Down Syndrome. Saya bisa! Berikan saya kesempatan dengan kesabaran dan senyum Anda.”

Kalimat itu menjadi penanda sekaligus pengingat: ruang ini bukan sekadar tempat minum kopi.

Baca juga: Penumpang Stasiun Manggarai Mengular Jelang Buka Puasa: 1 Eskalator Mati, Atap Bocor

Belajar di balik mesin espresso

Siang itu, suasana kafe terasa hidup. Ikhlas (23) salah satu karyawan penyandang down syndrome (DS) berdiri di depan mesin espresso, didampingi karyawan lain, Namjad (19).

Dengan serius ia memperhatikan cara menuang kopi ke dalam gelas berisi es.

Tangannya bergerak hati-hati, memastikan takaran pas. Di depannya, secangkir latte dengan latte art berbentuk hati telah siap disajikan.

“Pelan-pelan ya,” ujar Namjad.

Ikhlas mengangguk. Wajahnya fokus, lalu tersenyum kecil ketika minuman berhasil diracik dengan rapi.

Name tag di dadanya bertuliskan “Ikhlas – Barista”. Sesekali ia melirik ke arah pelanggan yang menunggu pesanan, tampak percaya diri meski masih terus belajar.

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Vanessa (18), karyawan penyandang Down Syndrome Kafe Kopi Kamu Jakarta Selatan dengan sigap mengantarkan nampan berisi berbagai varian minuman kopi pesanan pelanggan. Kamis (19/2/2026).

Tak jauh dari bar, Vanessa (18) berjalan membawa nampan berisi dua minuman es kopi susu dan secangkir cappuccino hangat.

Langkahnya mantap, kedua tangannya menjaga keseimbangan baki. Ia menghampiri meja pelanggan dengan senyum.

“Silakan,” ucapnya singkat.

Di sudut ruangan lain, dinding penuh coretan warna-warni pesan pelanggan menjadi latar hangat.

Kupu-kupu kertas bergantung di langit-langit, lampu gantung temaram menyinari meja-meja kayu.

Di tengah ruangan, suasana berubah riuh ketika para barista membawa kue ulang tahun dengan lilin menyala.

Vanessa memegang piring kue dengan hati-hati, sementara Ikhlas dan rekan lainnya bertepuk tangan mengikuti irama lagu ulang tahun.

Wajah Vanessa tampak sumringah, matanya berbinar menyaksikan pelanggan tersenyum bahagia.

Kehadiran mereka bukan sekadar simbol inklusivitas. Di balik meja kasir, Vanessa sempat menunjukkan pin merah di celemeknya sambil tersenyum bangga.

Halaman:

1

2

3

Show All

Jakarta

disabilitas

down syndrome

indepth

kopi kamu

kafe kopi kamu

Lihat Megapolitan Selengkapnya

Pilihan Untukmu

Terkini Lainnya

Polres Jaksel Gelar Simulasi Pengamanan, Singgung Antisipasi Dampak Isu Global

Megapolitan

08/04/2026, 00:52 WIB

Kasasi Delpedro Picu Perdebatan KUHAP Lama vs Baru, Ini Kata Yusril

Megapolitan

08/04/2026, 00:45 WIB

15 Rumah di Lenteng Agung Dibongkar TNI, Warga Klaim Tanah Bukan Milik Militer

Megapolitan

08/04/2026, 00:05 WIB

Respons Kasasi Vonis Delpedro, Yusril Singgung Independensi Jaksa

Megapolitan

07/04/2026, 23:58 WIB

Pakar: Kasasi Kejagung atas Vonis Bebas Delpedro Sah Secara Hukum, Kenapa?

Megapolitan

07/04/2026, 23:53 WIB

4 Pekerja Proyek Bangunan TB Simatupang Tak Gunakan APD Saat Ditemukan Tewas

Megapolitan

07/04/2026, 23:33 WIB

Viral Penumpang Tarik Topi Petugas KCI di Manggarai Saat Paksa Masuk KRL Penuh

Megapolitan

07/04/2026, 23:28 WIB

Rumah Doa POUK Teluknaga Dibuka, Pemkab Tangerang Diminta Sediakan Lahan Gereja

Megapolitan

07/04/2026, 22:59 WIB

Empat Pekerja Tewas di Penampungan Air TB Simatupang, Polisi Uji Sampel Gas

Megapolitan

07/04/2026, 22:46 WIB

Pelimpahan Berkas Tertutup, 4 Prajurit TNI Penyiram Air Keras Andrie Yunus Segera Disidang

Megapolitan

07/04/2026, 22:38 WIB

Ada Pemasangan JPO, Rekayasa Lalu Lintas di Depan Stasiun Bekasi Berlaku hingga 10 April

Megapolitan

07/04/2026, 22:37 WIB

Jalan Sekitar Mall Daan Mogot Rusak dan Gelap, Pemotor Sempat Kecelakaan

Megapolitan

07/04/2026, 22:11 WIB

Curanmor Bersenpi di Kapuk Jakbar, Pelaku Diduga Todongkan Pistol ke Warga

Megapolitan

07/04/2026, 22:08 WIB

Aldi Taher Promo Burger ke Balai Kota Jakarta, Bikin Pramono Tertawa Terpingkal-pingkal

Megapolitan

07/04/2026, 21:26 WIB

Warga di Grogol Ngaku Punya Septic Tank, Ternyata Limbah Masih Dibuang ke Kali

Megapolitan

07/04/2026, 21:12 WIB

1

2

3

Next

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app

You can share this post!