Kampus di Indonesia Belum Siap Akomodasi Dosen Disabilitas
Sosial

Kampus di Indonesia Belum Siap Akomodasi Dosen Disabilitas

PENELITIAN Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebutkan bahwa hampir seluruh kampus di Indonesia belum ramah bagi dosen penyandang disabilitas. Penelitian ini dilakukan Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan University of Nottingham, Inggris dengan cara melakukan survei terhadap 59 dosen penyandang disabilitas dari 26 perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.

Menurut penelitian tersebut, pada bangunan kampus masih ditemui tangga yang curam tanpa lift, toilet sempit, hingga gedung bertingkat yang mustahil diakses kursi roda. Tidak hanya itu, masih ditemukan pula akses bahan ajar mengajar yang tidak dapat terakses dosen dengan ragam disabilitas sensorik. Misalnya, materi atau aplikasi yang tidak dapat terakses pembaca layer tunanetra.

“Banyak dari dosen penyandang disabilitas mengalami kecemasan berlebih, mood yang naik-turun, hingga kelelahan berpikir,” ujar Ketua Unit Layanan Disabilitas UGM, Wuri Handayani, seperti yang dilansir dari situs resmi UGM pada Rabu, 18 Februari 2026.

Wuri melanjutkan, akibat dari sulitnya akses ke fasilitas kampus membuat para dosen disabilitas ini kerap diberi stigma pemalas serta tidak produktif. “Kondisi ini bukan karena mereka malas, tapi energi mereka habis untuk menaklukkan hambatan lingkungan sebelum sempat mengajar,” katanya.

Kondisi kampus yang belum ramah disabilitas juga menjadikan dosen mengalami hambatan dalam memenuhi target dan tuntutan untuk mengajar, meneliti, mengabdi. Di ruang kelas, misalnya, dosen dengan keterbatasan mobilitas atau wicara sering mengalami kecemasan luar biasa saat menghadapi kelas besar.

Belum lagi jika mendapatkan jadwal kuliah diubah secara mendadak menjadikan dosen disabilitas merombak total rencana transportasi dan pendampingan yang sudah disusun rapi.

“Apalagi jika ada kegiatan konferensi ke luar kota yang melibatkan mereka, Kegiatan yang seharusnya jadi ajang publikasi karya, malah terkadang jadi mimpi buruk soal transportasi, akses dan berbagai hambatan lain membuat mereka akhirnya memilih mundur,” kata Wuri.

Hasil dari survei ini dibahas dalam sebuah forum strategis yang didanai oleh British Council melalui skema Going Global Partnership 2025 di Hotel Tara, Yogyakarta selama 2 hari, 4-5 Februari 2026. Di bawah program bertajuk Shining a Light on Unheard Voices of Disabled Researchers (SHINE), Universitas Gadjah Mada berkolaborasi dengan University of Nottingham, Inggris, menggelar forum strategis yang didanai oleh British Council melalui skema Going Global Partnership 2025.

Kegiatan ini menjadi media mengungkap fakta tersembunyi mengenai hambatan yang dihadapi dosen disabilitas di institusi pendidikan tinggi. Pada puncak kegiatan, sebanyak 16 dosen disabilitas menyepakati terbentuknya wadah perjuangan bersama bernama Asosiasi Dosen Disabilitas Indonesia (ADDI). ADI Dibentuk guna mengatasi banyaknya hambatan yang dialami.

“Harapannya melalui asosiasi yang dibangun dapat lebih mendorong kebijakan inklusif kepada pemerintah dan kampus. Mereka ingin memastikan ada akomodasi yang layak,”kata Wuri.

Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Wening Udasmoro, menyambut baik terbentuknya Asosiasi Dosen Disabilitas Indonesia. Ia menegaskan bahwa komitmen institusi terhadap inklusivitas tidak boleh berhenti hanya pada jargon. Harus ada langkah konkret yang dilakukan kampus terkait berbagai fasilitas atau audit aksesibilitas.

“Saya sungguh berharap rekomendasi riset dan lokakarya ini tidak hanya menjadi dokumen di atas meja, melainkan dapat dijadikan refleksi terhadap perubahan yang komprehensif di universitas-universitas seluruh Indonesia,” katanya.

You can share this post!