Portal Media Online - KORAN-PIKIRAN RAKYAT – Ketegangan wilayah Timur Tengah kian memanas. Amerika Serikat terus melakukan tekanan militer di tengah negosiasi kesepakatan nuklir dengan Iran.
Kapal induk Amerika Serikat (AS), USS Gerald R Ford, yang bertenaga nuklir dilaporkan telah tiba di area Teluk Souda, yang berada di Pulau Kreta, Yunani. Posisi kapal induk terbesar di dunia ini semakin dekat dengan Timur Tengah, ketika perang antara AS dan Iran dikhawatirkan pecah dalam waktu dekat.
Teluk Souda, seperti dilansir Gulf News dan The Times of Israel, Selasa 24 Februari 2026, merupakan lokasi pangkalan strategis Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Teluk tersebut juga menjadi pusat vital bagi AS, Yunani, dan sekutu-sekutunya di kawasan Mediterania bagian timur.
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Iran Kazem Gharibabadi, memperingatkan akan adanya eskalasi lebih luas jika negaranya diserang. Ia menyerukan kepada semua negara yang berkomitmen pada perdamaian dan keadilan untuk mengambil langkah-langkah yang bermakna, untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
"Konsekuensi dari setiap agresi baru tidak akan terbatas pada satu negara -- dan tanggung jawab akan berada pada mereka yang memulai atau mendukung tindakan tersebut," kata Gharibabadi dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Swiss, seperti dilansir AFP, Selasa 24 Februari 2026.
Seperti diketahui, negosiator Iran dan AS menggelar pembicaraan tidak langsung, dengan dimediasi Oman, di Jenewa pekan lalu mengenai program nuklir Teheran. Washington mengatakan pada Senin 23 Februari 2026 waktu setempat bahwa perundingan nuklir dengan Iran akan dilanjutkan kembali pada Kamis 26 Februari 2026 mendatang, dengan Oman menyebut perundingan akan kembali digelar di Jenewa.
Di lian pihak, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengatakan, Amerika Serikat membuka semua opsi dalam pendekatannya terhadap Iran, serta mendesak negara itu untuk bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan. Berbicara kepada wartawan saat kunjungan ke Colorado, pada Senin 23 Februari 2026 Hegseth menegaskan kembali bahwa Presiden Donald Trump lebih memilih solusi diplomatik, tetapi menekankan bahwa militer AS telah siap dengan rencana darurat jika Iran menolak mencapai kesepakatan.
“ Iran harus membuat kesepakatan. Iran memiliki kesempatan untuk membuat kesepakatan. Itulah hasil yang lebih diinginkan presiden,” ucapnya seperti dilansir Kantor Berita Antara.
Hegseth menekankan, Kementerian Pertahanan AS bertugas untuk menyediakan berbagai opsi, termasuk memiliki opsi bagi Presiden Trump jika Iran memutuskan untuk menolak kesepakatan. Ketika ditanya apakah serangan militer masih dipertimbangkan, Hegseth menjawab, “Semuanya masih menjadi opsi. Itu keputusan presiden. Kami di sini untuk membantu memastikan kesepakatan tercapai. Dan saya pikir Iran akan bijak jika membuat kesepakatan yang baik,” katanya.
Sebelumnya, Trump menolak laporan media yang menyebut Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine telah menyarankan presiden dan pejabat tinggi lainnya bahwa tindakan militer terhadap Iran dapat membawa risiko besar dan menyeret AS ke dalam konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.