Kebakaran SMPN 2 Samarinda Akibatkan Kerugian Rp2 Miliar, Pembelajaran Daring Diterapkan Hingga Mei
Ruang Daring

Kebakaran SMPN 2 Samarinda Akibatkan Kerugian Rp2 Miliar, Pembelajaran Daring Diterapkan Hingga Mei

Kebakaran yang melanda SMPN 2 Samarinda pada Rabu, 1 April 2026, mengakibatkan kerusakan serius pada delapan ruang kelas dan musala, dengan total kerugian diperkirakan mencapai Rp2 miliar. Kejadian ini memaksa pihak sekolah untuk mengubah pola belajar siswa menjadi daring hingga pertengahan Mei.

Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, enam dari delapan ruang kelas mengalami kerusakan berat. Selain itu, kebakaran juga menghanguskan ratusan inventaris sekolah, termasuk 256 pasang meja dan kursi, 32 unit kipas angin, delapan papan tulis, delapan lemari kelas, dan dua unit pendingin ruangan.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Samarinda, Wahiduddin, menyatakan bahwa rehabilitasi sekolah akan mencakup perbaikan fisik dan peningkatan sistem kelistrikan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan. "Kalau penyebabnya korsleting, maka kita harus memastikan itu tidak terjadi lagi," tegasnya.

Setelah kebakaran, aktivitas belajar mengajar dihentikan sementara pada Kamis untuk melakukan konsolidasi internal. Kepala SMPN 2 Samarinda, Misradianto, menjelaskan bahwa langkah tersebut penting untuk merencanakan kelanjutan proses pendidikan. "Kami liburkan satu hari untuk koordinasi seluruh warga sekolah," ujarnya.

Pihak sekolah kemudian merancang pembelajaran daring sebagai solusi sementara, dimulai pekan depan, khusus untuk siswa kelas VII dan VIII. Sementara itu, siswa kelas IX akan tetap melaksanakan Tes Kompetensi Akademik (TKA) pada 6 hingga 14 April.

“Setelah ujian kelas IX selesai, delapan kelas yang terdampak kebakaran akan menjalani pembelajaran daring secara bergiliran,” jelas Misradianto. Awalnya, ada rencana untuk memindahkan siswa ke gedung sekolah lain, tetapi dibatalkan karena potensi kendala teknis dan mobilitas guru yang dianggap menyulitkan.

“Kalau dipindah ke sekolah lain, belum tentu tersedia ruang, dan guru juga bisa kerepotan. Jadi kita upayakan daring sampai pertengahan Mei,” tambahnya.

Meski beberapa ruangan di lantai bawah masih terlihat layak pakai, keputusan untuk mengosongkan seluruh area yang terdampak diambil demi alasan keamanan. Proses renovasi di lantai atas dapat membahayakan siswa yang berada di bawahnya. "Kita tidak berani mengambil risiko saat perbaikan di atas," tutup Misradianto.

Aktivitas belajar di SMPN 2 Samarinda diprediksi baru akan kembali normal setelah semua ujian kelas IX selesai dan ruang kelas yang cukup tersedia untuk menampung siswa kelas VII dan VIII.

You can share this post!