Portal Media Online - SUKABUMI, TINTAHIJAU.com — Pihak keluarga NS (13), remaja yang meninggal dunia di RSUD Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, akhirnya memberikan klarifikasi terkait berbagai informasi yang beredar luas di media sosial. Keluarga meminta masyarakat tidak terburu-buru mempercayai kabar yang belum terverifikasi dan menunggu hasil resmi dari tim forensik kedokteran kepolisian.
Bakang Anwar Asyad, paman korban, mengenang NS sebagai anak yang santun dan tengah memperdalam ilmu agama di sebuah pondok pesantren.
“Beliau anak yang baik, anak yang saleh dan beliau kebetulan sepengetahuan saya diantar bapaknya atau disimpan bapaknya di salah satu pesantren untuk mengaji,” ujar Bakang kepada awak media sepertiyang dilansir dari laman detikJabar, Sabru (21/2/2026).
Menurut Bakang, keponakannya yang akrab disapa Raja itu memang memiliki kondisi kesehatan yang kurang stabil sejak lama. Ia menyebut NS kerap mengeluhkan sakit bahkan sebelum peristiwa yang berujung duka tersebut terjadi.
“Sebetulnya sepengetahuan saya memang sebelumnya juga sering sakit dan mengeluh,” kata Bakang.
Secara fisik, lanjutnya, kondisi tubuh NS terlihat lemah. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti penyakit yang diderita korban.
“Jadi kalau melihat dari sisi kondisi badannya memang kelihatan sekali bahwa selama ini dia lemah. Kalau berbicara penyakit saya tidak tahu mengidap penyakit apa,” tuturnya.
Bakang juga menegaskan bahwa ayah korban, Anwar Satibi, memberikan perhatian dan pengawasan yang intens terhadap anaknya. Bahkan, kata dia, sang ayah kerap membawa NS untuk menginap di rumah kerabat karena rasa sayang yang besar.
“Sebetulnya dari pengawasan itu bapaknya memang intens juga terhadap anak. Kadang di sini diajak tidur di saya, sempat dulu juga di tempat saya cuma bapaknya karena mungkin terlalu sayang juga ditarik,” ungkap Bakang.
Keluarga mengaku tidak menyangka kondisi sakit yang dialami NS akan berakhir tragis. Saat mendapat kabar bahwa korban dilarikan ke rumah sakit, Bakang mengira itu hanya sakit biasa. Ia bahkan sempat menunda untuk menjenguk karena bertepatan dengan bulan Ramadan.
“Pas begitu hari kemarin itu ya, makanya saya santai saja sama istri tuh mikirnya ini hari bulan puasa, biar habis Magrib atau habis buka puasa saya nanti ke rumah sakit, ternyata Allah berkehendak lain,” kenangnya.
Bakang mengakui dirinya tidak mengetahui secara detail riwayat medis korban karena NS tinggal di pesantren dan tidak setiap hari bersamanya.
Menanggapi spekulasi yang berkembang di media sosial, termasuk isu yang menyeret nama ibu tiri korban, Bakang menyatakan keberatan. Ia juga menyayangkan beredarnya video yang memperlihatkan kondisi kritis NS sebelum meninggal dunia.
“Satu hal mungkin kalau saat ini berseliweran informasi sehingga mengarah ke salah satu permasalahan atau terindikasi dengan berspekulasi terkait apa pun, ya menurut saya sih itu dibantah saja terlebih dahulu sebelum ada pembuktian yang nyata. Ini kasihan terhadap almarhum,” tegasnya.
Ia mengajak masyarakat untuk bersikap bijak dan menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak berwenang.
“Ayo kita sama-sama pegang etika bersama untuk bijaksana menyikapi permasalahan ini sehingga nanti kita melihat dari bukti yang otentik. Menunggu keputusan yang memang riil dari pihak kedokteran kepolisian atau tim forensik,” tambahnya.
Bakang menutup pernyataannya dengan membantah seluruh isu yang dinilainya tidak benar dan meminta publik menunggu hasil uji forensik.
“Mohon izin untuk hari ini beredar isu yang menurut saya itu tidak benar. Itu tidak benar sementara saya bantah terlebih dahulu sebelum hasil dari uji forensik itu benar-benar nyata,” pungkasnya.
Tag: penganiayaan anak Peristiwa Sukabumi
Dua Pekan Jelang Lebaran, Dedi Mulyadi Liburkan Ojek hingga Delman
Pos Terkait
Ragam
Satres Narkoba Polres Majalengka Tangkap Pengedar Sabu di Talaga
Megapolitan
Diduga Mabuk, Pria Berpistol dan Samurai Mengamuk di Garut
Megapolitan
RSUD Palabuhanratu Angkat Bicara, Ungkap Fakta Rasional di Balik Video Viral ‘Bocah Misterius’
Megapolitan
Polres Majalengka Tangkap IRT Produsen Tembakau Sintetis, Terancam Hukuman Berat
Ragam
Polres Majalengka Ungkap Kasus Curat Emas Modus Petugas Kesehatan, Lima Pelaku Diamankan
Megapolitan
Ular Weling Dijadikan Mainan, Satu Pemuda di Bogor Tewas dan Satu Kritis