Kisah Inspiratif Titin, Guru Ngaji Disabilitas yang Tetap Berjuang di Indramayu
Sosial

Kisah Inspiratif Titin, Guru Ngaji Disabilitas yang Tetap Berjuang di Indramayu

INDRAMAYU, KOMPAS.com – Tak ada seorang pun yang ingin terlahir dengan keterbatasan fisik, termasuk Titin Maryantin (35). Namun, warga Desa/Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, ini memilih untuk tidak menyerah pada takdir.

Di kampung halamannya, Titin dikenal luas sebagai sosok guru mengaji yang berdedikasi.

Selain mengajar di sebuah madrasah diniyah, ia juga berkeliling memberikan les privat dari rumah ke rumah.

Rutinitas itu menjadi keseharian Titin menata kehidupan yang harus terus berjalan.

Pada pagi hari, Titin akan mengurusi urusan rumah, mulai dari menyapu, mengepel, cuci piring, cuci pakaian, dan lain sebagainya.

Setelah semua beres, pukul 10.00 WIB ia berangkat mengajar menggunakan sepeda listrik roda tiganya dan baru kembali ke rumah sekitar pukul 22.00 WIB.

Titin mengungkapkan bahwa menjadi seorang guru adalah cita-citanya sejak kecil.

"Waktu kecil saya sangat semangat, Pak. Bahkan, cita-cita saya ingin menjadi guru," ujar Titin saat ditemui di madrasah diniyah tempatnya mengajar belum lama ini.

Titin sendiri adalah anak ke-8 dari sembilan bersaudara. Kondisi kakinya yang mengecil diketahui sudah bawaan sejak lahir.

Titin kecil juga sempat mengenyam bangku sekolah, walau pada akhirnya tidak bisa ia tamatkan.

Bukan karena faktor bullying, melainkan karena keterbatasan ekonomi orang tuanya.

"Bukan karena di- bully, Pak. Alhamdulillah tidak ada yang mem- bully saya," katanya pelan.

Walau begitu, Titin kecil tumbuh di lingkungan dengan agama yang kental dan kemudian menjadi bekalnya kini untuk mengajar ngaji anak-anak di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Saat mengajar, Titin juga selalu berusaha tampil berwibawa di hadapan murid-muridnya dengan harapan mereka tumbuh menjadi anak berakhlak mulia.

You can share this post!