Kondisi Ruang Kelas di SD Negeri 3 Amerta Bhuana Memprihatinkan Pasca Pembelajaran Daring
Ruang Daring

Kondisi Ruang Kelas di SD Negeri 3 Amerta Bhuana Memprihatinkan Pasca Pembelajaran Daring

Karangasem, Bali – SD Negeri 3 Amerta Bhuana yang terletak di Desa Amerta Bhuana, Kecamatan Selat, Karangasem, mengalami kondisi yang memprihatinkan akibat kurangnya pemeliharaan selama pandemi Covid-19. Sejak awal pandemi, sistem pembelajaran dilakukan secara daring, sehingga ruang kelas tidak dimanfaatkan secara optimal.

Selama masa pembelajaran jarak jauh, hanya guru dan staf yang hadir di sekolah untuk menyampaikan materi kepada siswa dari rumah. Hal ini menyebabkan beberapa ruangan di sekolah tersebut, termasuk ruang kelas V, VI, ruang guru, dan ruang kepala sekolah, mengalami kerusakan yang semakin parah.

Atap beberapa ruangan dilaporkan jebol dan temboknya retak, sehingga saat ini ruang-ruang tersebut dikosongkan untuk menghindari potensi bahaya bagi guru dan siswa.

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Karangasem, Nyoman Merta, mengonfirmasi kondisi tersebut. Ia menyebutkan bahwa banyak sekolah di Karangasem yang mengalami kerusakan serupa. Menurut data yang ada, sekitar 12 sekolah di daerah itu mengalami kerusakan berat.

SD Negeri 3 Amerta Bhuana sudah masuk dalam rencana perbaikan, dan pemerintah sedang menyiapkan anggaran untuk pelaksanaan rehabilitasi fisik. Merta menambahkan bahwa detail engineering design (DED) untuk perbaikan sudah tersedia.

Data Disdikpora Karangasem menunjukkan bahwa hampir 50 persen dari total 336 SD di daerah tersebut dalam kondisi rusak, baik ringan maupun berat. Perbaikan sekolah dilakukan secara bertahap berdasarkan skala prioritas, dengan fokus pada sekolah-sekolah yang paling parah kerusakannya.

Kepala Disdikpora Karangasem, I Gusti Ngurah Kartika, menjelaskan bahwa rehabilitasi bangunan diprioritaskan untuk sekolah yang mengalami kerusakan berat dan sedang. Sebanyak 10 sekolah di Kecamatan Karangasem akan mendapatkan perbaikan dengan total dana sebesar Rp 1,8 miliar. Kecamatan lainnya seperti Kubu dan Abang masing-masing mendapatkan delapan sekolah, sedangkan Kecamatan Rendang, Selat, Sidemen, dan Manggis juga mendapatkan alokasi perbaikan.

Pemerintah berencana untuk melakukan perbaikan secara bertahap dalam upaya mengurangi jumlah sekolah yang rusak. Kerusakan yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh usia bangunan yang sudah tua, dengan berbagai masalah seperti retak tembok, atap bocor, dan plafon ambruk. Kartika menegaskan bahwa perbaikan akan dilakukan berdasarkan laporan kerusakan dari masing-masing sekolah.

You can share this post!