Portal Media Online - Seorang wanita berusia lima puluh tahun melaporkan penipuan yang dialaminya setelah tertipu oleh akun media sosial yang menyamar sebagai keponakannya. Dalam situasi mendesak, ia mentransfer sejumlah uang, hanya untuk menyadari bahwa suara dan gambar yang ia percayai adalah hasil manipulasi.
Di penghujung tahun, wanita tersebut menerima panggilan video dari akun media sosial keponakannya. Dalam keadaan penuh harapan, ia tidak ragu untuk membantu, yang berujung pada transfer uang. Namun, setelah mencoba menghubungi keponakannya kembali, ia menyadari bahwa dirinya telah tertipu.
Kasus ini bukanlah yang pertama. Pada April 2026, jaringan penipuan teknologi tinggi terungkap, dengan lebih dari 5.000 orang menjadi korban dan kerugian mencapai lebih dari 15 miliar VND. Di Bac Ninh, sekelompok individu dituntut karena menipu uang senilai 50 miliar VND melalui peretasan akun media sosial dan penyamaran sebagai penjual. Penjahat siber kini tidak hanya mencuri uang, tetapi juga kepercayaan masyarakat. Teknologi deepfake dan manipulasi psikologis menjadi alat yang digunakan untuk merusak kepercayaan dan menciptakan kebingungan.
Di tengah situasi ini, tantangan bagi masyarakat semakin besar. Pendekatan yang pasif dalam menghadapi penipuan dan manipulasi ideologis menjadi celah risiko yang harus diwaspadai. Perlu adanya revolusi kesadaran untuk mengatasi permasalahan ini dan membangun kembali kepercayaan yang telah hilang, serta memperkuat landasan ideologis di ruang daring. Tanpa tindakan yang tegas dan terarah, kebenaran akan sulit bersaing dengan rumor dan manipulasi.