Portal Media Online - Peneliti senior Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Soni Solistia Wirawan, mengungkapkan tiga syarat mutlak untuk pengembangan biodiesel ke tingkat campuran lima puluh persen atau B50. Syarat ini diungkapkan dalam konferensi internasional 2nd Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference and Expo (IPORICE) 2025.
Indonesia telah melaksanakan mandatori B40 sejak tahun 2020, yang melibatkan pengujian lapangan ketat dengan armada kendaraan yang memiliki jarak tempuh harian hingga 500 kilometer.
Soni menjelaskan bahwa transisi menuju B50 membutuhkan keseimbangan antara performa mesin dan nilai ekonomis. Tiga pilar utama yang menjadi kunci keberhasilan implementasi skala besar adalah harga bahan baku yang stabil, efisiensi proses produksi melalui inovasi teknologi, dan efektivitas distribusi. Kualitas teknis biodiesel berbasis kelapa sawit memiliki keunggulan alami, seperti sifat pelumasan yang menjaga keawetan komponen mesin dan rendahnya kandungan sulfur yang mengurangi emisi gas buang.
Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar BRIN fokus pada pemantauan kestabilan oksidasi untuk mencegah kerusakan pada bahan bakar selama penyimpanan dan memastikan parameter pembekuan tetap terjaga. Selain itu, sifat detergensi biodiesel membantu membersihkan endapan di dalam mesin, namun perlu diperhatikan kompatibilitasnya terhadap segel karet agar tidak menimbulkan kebocoran.
Proses pengujian B40 meliputi pembongkaran total mesin setelah mencapai target jarak tertentu untuk memeriksa kondisi injektor dan memantau keausan komponen. Riset bertujuan memastikan setiap kenaikan level campuran menghasilkan produk yang lebih baik dan meningkatkan nilai ekonomis bersamaan dengan kualitas bahan bakar. Monitoring kualitas di titik penyimpanan akhir juga dilakukan secara berkala untuk menjaga kepercayaan publik terhadap bahan bakar nabati produksi dalam negeri. Kemandirian energi nasional menjadi target yang ingin dicapai melalui inovasi dan riset mendalam.