Militer Myanmar Menutup Operasi Penipuan Daring Besar, Ribuan Tersangka Ditangkap dan Perangkat Starlink Disita
Pusat Online

Militer Myanmar Menutup Operasi Penipuan Daring Besar, Ribuan Tersangka Ditangkap dan Perangkat Starlink Disita

Militer Myanmar baru-baru ini melaksanakan operasi besar untuk menutup jaringan penipuan daring di wilayah perbatasan dengan Thailand. Dalam operasi ini, lebih dari 2.000 orang ditangkap dan puluhan terminal internet satelit Starlink disita, yang diduga digunakan untuk mendukung aktivitas kejahatan siber.

Menurut laporan dari media pemerintah Myanma Alinn, operasi ini berlangsung di KK Park, salah satu pusat kejahatan siber terbesar di Myanmar, sejak awal September 2025. Myanmar telah lama dikenal sebagai pusat operasi penipuan internasional, dengan modus operandi yang sering melibatkan penipuan romantis dan tawaran investasi palsu.

Modus Penipuan dan Taktik Rekrutmen

Jaringan penipuan ini umumnya merekrut tenaga kerja asing dengan menawarkan pekerjaan yang sah. Namun, setelah para korban tiba, mereka sering kali disandera dan dipaksa untuk terlibat dalam kegiatan kejahatan siber. Dalam laporan tersebut, militer Myanmar juga menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk menekan praktik penipuan online, perjudian ilegal, dan kejahatan lintas batas.

Kontroversi dan Tuduhan

Mayor Jenderal Zaw Min Tun, juru bicara militer Myanmar, menuding kelompok etnis bersenjata Karen National Union (KNU) terlibat dalam aktivitas penipuan yang terjadi di KK Park. Namun, KNU membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa wilayah yang digunakan adalah area sewaan dari perusahaan lokal tanpa hubungan dengan kejahatan siber.

Penyitaan dan Penangkapan

Dalam penggerebekan tersebut, militer menemukan lebih dari 260 bangunan tak berizin dan menyita berbagai peralatan, termasuk 30 terminal Starlink. Sebanyak 2.198 orang ditangkap, meskipun identitas kewarganegaraan mereka tidak diungkapkan dalam laporan.

Starlink dan Legalitas Operasi

Starlink, layanan internet satelit milik SpaceX yang dipimpin oleh Elon Musk, belum memperoleh izin operasi di Myanmar. Namun, perangkatnya banyak diselundupkan ke kawasan Asia Tenggara untuk mendukung jaringan penipuan siber. SpaceX belum memberikan tanggapan resmi terkait situasi ini, meskipun perusahaan telah menekankan bahwa penggunaan layanan untuk aktivitas ilegal atau penipuan dilarang.

You can share this post!