Militer Thailand Melancarkan Pengeboman Terhadap Pusat Judi di Kamboja
Pusat Online

Militer Thailand Melancarkan Pengeboman Terhadap Pusat Judi di Kamboja

Militer udara Thailand telah melaksanakan serangan pengeboman terhadap lima lokasi yang diduga terlibat dalam kegiatan perjudian dan penipuan online di Kamboja. Tindakan ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara kedua negara anggota ASEAN tersebut.

Bangunan yang menjadi target serangan tersebut, termasuk Kasino O'Smach di Provinsi Oddar Meanchey, diyakini juga berfungsi sebagai tempat penampungan bagi korban perdagangan manusia. Sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan sekelompok orang asing yang melarikan diri dari lokasi yang diduga sebagai sarang penipuan daring.

Detail Pengeboman

Menurut laporan, serangan yang terjadi pada tanggal 8 Desember 2025 ini mengakibatkan satu orang penjaga keamanan tewas dan lima lainnya, yang berasal dari Tiongkok dan Myanmar, mengalami luka-luka. Selain Kasino O'Smach, lokasi lain yang disasar mencakup Royal Hill Resort dan beberapa kasino lainnya di dekat perbatasan, yang juga diduga terlibat dalam aktivitas ilegal.

Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Kasino O'Smach sendiri telah dicap memiliki catatan pelanggaran hak asasi manusia, dengan praktik kerja paksa yang terkait dengan jaringan penipuan online. Departemen Keuangan Amerika Serikat sebelumnya telah memberikan sanksi terhadap kasino tersebut serta pemiliknya, Ly Yong Phat, akibat keterlibatannya dalam kejahatan kemanusiaan.

Tanggapan Kamboja

Kementerian Pertahanan Kamboja mengungkapkan bahwa serangan ini tidak hanya membidik fasilitas perjudian tetapi juga mengancam tempat ibadah suci umat Buddha, seperti Candi Angkor Wat. Pemerintah Kamboja menyatakan bahwa warga sipil, termasuk mereka yang melarikan diri untuk mencari perlindungan, menjadi sasaran serangan.

Upaya Perdamaian yang Ditolak

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat menawarkan proposal damai kepada kedua negara setelah terjadinya konflik yang telah mengakibatkan 14 korban tewas dan memaksa sekitar 500.000 orang mengungsi. Namun, Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menolak proposal tersebut, menunjukkan ketegangan yang masih ada antara Thailand dan Kamboja.

You can share this post!