Operasi Penangkapan Besar di Myanmar: Junta Klaim 1.600 Warga Asing Ditangkap dalam Jaringan Penipuan Digital
Pusat Online

Operasi Penangkapan Besar di Myanmar: Junta Klaim 1.600 Warga Asing Ditangkap dalam Jaringan Penipuan Digital

Junta militer Myanmar mengumumkan bahwa mereka telah menangkap hampir 1.600 warga negara asing dalam sebuah operasi besar-besaran terhadap jaringan penipuan digital yang beroperasi di perbatasan Thailand. Penangkapan ini terjadi dalam rentang waktu lima hari, dari 18 hingga 22 November 2025, dan dilakukan di kawasan yang dikenal sebagai pusat aktivitas kejahatan siber dan perjudian ilegal.

Menurut laporan, kawasan perbatasan Myanmar telah bertransformasi menjadi "pabrik penipuan" yang melibatkan ribuan pekerja, termasuk banyak yang direkrut secara ilegal dari luar negeri. Para pekerja ini diduga terlibat dalam berbagai jenis penipuan, termasuk penipuan asmara dan investasi, yang diperkirakan dapat menghasilkan puluhan miliar dolar setiap tahunnya.

Pemerintah junta selama ini dituding membiarkan industri ilegal ini berkembang, namun sejak awal tahun 2025, mereka mulai mengambil tindakan tegas setelah menerima tekanan dari China, sekutu utama mereka. Beberapa pengamat menilai operasi terbaru ini mungkin merupakan upaya untuk meredakan ketidakpuasan Beijing, tanpa menghentikan aliran keuntungan yang dinikmati oleh kelompok milisi pro-junta.

Detail Penangkapan dan Penyitaan

Berdasarkan laporan dari media pemerintah, sebanyak 1.590 warga asing yang diduga masuk secara ilegal ditangkap dalam operasi di kompleks perjudian dan penipuan yang dikenal sebagai Shwe Kokko. Selain menangkap, pihak berwenang juga menyita hampir 3.000 komputer, lebih dari 21.000 ponsel, 101 perangkat Starlink, dan berbagai peralatan lain yang digunakan dalam aktivitas penipuan daring.

Langkah penggerebekan ini diambil setelah investigasi internasional mengungkapkan penggunaan luas dari internet satelit Starlink di wilayah tersebut. Menanggapi laporan tersebut, perusahaan Starlink yang dimiliki Elon Musk telah menonaktifkan lebih dari 2.500 perangkat yang ditemukan di lokasi-lokasi penipuan di Myanmar.

Situasi di Kawasan Shwe Kokko

Dalam penggerebekan yang terjadi pada Sabtu lalu, sebanyak 223 terduga pelaku penipuan ditangkap, di antaranya 100 warga negara China. Rekaman dari media lokal menunjukkan alat berat yang menghancurkan ratusan monitor komputer dan tumpukan ponsel yang dimusnahkan di lokasi Shwe Kokko. Kawasan ini dikenal memiliki banyak pekerja, termasuk korban perdagangan manusia, yang dipaksa untuk terlibat dalam aktivitas penipuan.

Kejahatan siber dan perdagangan manusia mengalami lonjakan sejak kudeta militer pada tahun 2021, yang memicu ketidakstabilan dan melemahkan pengawasan pemerintah. Meskipun China merupakan pendukung utama junta Myanmar, negara tersebut dilaporkan semakin frustrasi karena banyak warganya menjadi sasaran dan menjadi bagian dari jaringan penipuan ini.

Menurut laporan PBB, kerugian akibat kejahatan siber di Asia Tenggara dan Asia Timur pada tahun 2023 diperkirakan mencapai USD 37 miliar, dengan kerugian global diperkirakan jauh lebih besar.

You can share this post!