JAKARTA — Pameran seni daring menjadi salah satu pilihan hiburan masyarakat di tengah pandemi Covid-19 dan masa pembatasan sosial. Melalui layar gawai, pengunjung dapat menelusuri ruang pamer virtual dan mengakses karya-karya seni tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Gilang Fathurrahman (24), warga Tangerang Selatan, Banten, menghabiskan waktu luangnya di rumah dengan mengunjungi pameran daring Art Jakarta pada Jumat (30/10/2020). Di layar laptopnya, ia melihat tampilan aula virtual yang bersekat-sekat, lalu mengarahkan kursor untuk membuka berbagai karya yang dipajang dalam ruang pamer digital.
Salah satu karya yang menarik perhatiannya adalah lukisan berjudul Sovereignty karya Erizal As. Gilang menyebut pengalaman menjelajah pameran virtual sebagai hal baru baginya. “Aku baru pertama kali, sih, cobain pameran virtual macam begini. Rasanya kayak main gim tembak-tembakan counter strike di komputer, tetapi buat lihat pameran seni,” kata Gilang saat dihubungi Jumat siang.
Menurut Gilang, salah satu kelebihan pameran daring adalah kemudahan akses bagi siapa pun, termasuk tanpa biaya. Ia mengaku tidak berencana bepergian selama libur panjang, sehingga pameran virtual menjadi alternatif untuk mengisi waktu senggang.
Pengalaman serupa dirasakan Dilla Hanifa (27), warga Ciracas, Jakarta Timur. Ia mengakses pameran daring bertajuk Je|Jak|Karta (Jejakkarta) yang diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia melalui situs galnasonline.id. Pameran tersebut menampilkan interpretasi seniman perupa mengenai jejak perkembangan Kota Jakarta.
Dalam laman pameran, pengunjung dihadapkan pada latar hitam dengan puluhan displai karya seni rupa dalam bentuk digital. Setiap karya dapat dibuka dengan satu kali klik. Dilla menilai format daring memberi keuntungan bagi orang yang tinggal jauh dari pusat kota, meski ada keterbatasan dalam pengalaman menikmati karya.
“Ada plus minus dari pameran daring. Menguntungkan bagi saya, yang tinggal jauh dari pusat kota masih bisa menikmati karya seni. Tetapi tetap ada minusnya karena lihat karya lewat layar monitor. Enggak bisa, tuh, kita lihat detail keindahan karya lukisannya, bertatap muka dengan senimannya,” ucap Dilla.
Gilang dan Dilla sama-sama menilai pameran daring belum dapat menggantikan sensasi pameran secara langsung. Gilang, misalnya, merasa suasana ruang pamer kurang terasa karena tidak ada kehadiran pengunjung lain. Meski laman pameran dibuat menyerupai ruang pamer, pengalaman keinderaan yang biasa hadir dalam pameran luring dinilai belum sepenuhnya terpenuhi.
Kepala Museum Galeri Nasional, Pustanto, mengakui masih banyak keterbatasan dalam pelaksanaan pameran daring. Namun, adaptasi diperlukan karena kondisi pandemi. Ia menjelaskan pameran Jejakkarta sebenarnya telah direncanakan sejak tahun sebelumnya untuk digelar secara luring, tetapi kemudian harus beralih ke format daring.
“Sejak dirintis tahun lalu, pameran seni Jejakkarta mestinya dipentaskan secara luring (offline). Namun, karena pandemi ini, suka tidak suka, kami semua harus beradaptasi. Hal ini juga yang membuat rekan-rekan seniman dan juga tim pengelola museum harus kreatif,” ujar Pustanto dalam pembukaan pameran, Rabu (28/10/2020).
Melalui pameran Jejakkarta, Pustanto berharap seni tetap dapat merekam jejak Kota Jakarta dalam berbagai medium, seperti lukisan dan patung. “Semoga pameran ini mampu melengkapi narasi tentang kota Jakarta yang dinamis dan penuh kompleksitas,” katanya.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid, menyampaikan bahwa penyelenggaraan pameran seni daring merupakan inovasi untuk mengakomodasi kesulitan seniman selama pandemi. Meski demikian, ia menilai upaya mencari bentuk-bentuk kreatif pameran tetap perlu dilakukan.
Sementara itu, Artistic Director Art Jakarta, Enin Supriyanto, mengatakan ekosistem seni rupa berupaya terus berkolaborasi di tengah keterbatasan. Ia berharap masyarakat juga beradaptasi dengan perangkat digital yang mendukung penyelenggaraan pameran seni daring.
Dengan berbagai inovasi dan keterbatasannya, pameran daring menjadi salah satu opsi bagi publik untuk tetap menikmati karya seni dari rumah, terutama saat waktu luang di tengah situasi pandemi.