Kupang, Nusa Tenggara Timur - Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT, bekerja sama dengan International Organization for Migration (IOM), mengadakan pelatihan instruktur Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP) bagi calon pekerja migran sektor kelapa sawit. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, dari tanggal 23 hingga 24 September 2025, bertempat di Hotel Harper Kupang.
Pelatihan ini diikuti oleh 22 peserta yang berasal dari berbagai instansi, termasuk Kantor Pusat BP2MI, BP3MI NTT, serta perwakilan Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten Kupang. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan materi pelatihan sekaligus ruang diskusi, guna memperdalam metode pembelajaran bagi calon pekerja migran.
Dalam pelatihan ini, sejumlah sesi dirancang secara interaktif, termasuk permainan edukatif dan ice breaking. Format ini diperkenalkan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan tidak monoton, sehingga peserta dapat memahami materi dengan lebih baik.
Konsultan pengarah pelatihan, Shanty, menjelaskan bahwa teknik pembelajaran yang digunakan mengutamakan keterlibatan peserta. Ia mengharapkan agar metode ini dapat diterapkan oleh para instruktur di lapangan, sehingga calon pekerja migran tidak hanya terpapar teori, tetapi juga terlibat secara aktif dalam proses belajar.
“Teknik pengajaran seperti ini adalah teknik Student Center Learning. Saya berharap setelah mengikuti pelatihan ini, Bapak/Ibu bisa menerapkannya pada kelas pembelajaran di lapangan agar para Calon Pekerja Migran tidak bosan tentang teori melulu,” ujar Shanty.
Selama kegiatan, para instruktur juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan pengalaman terkait tantangan dalam mengajar calon pekerja migran, termasuk cara menciptakan suasana kelas yang efektif.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program kolaborasi yang telah berlangsung antara IOM dan KemenP2MI, di mana kedua pihak terlibat dalam berbagai kegiatan untuk memperkuat perlindungan pekerja migran melalui OPP. Materi pelatihan juga menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap instruktur, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai kebutuhan pekerja migran, khususnya di sektor kelapa sawit.
Kupang dipilih sebagai lokasi pelatihan karena daerah ini merupakan salah satu kantong pekerja migran asal NTT, yang banyak berangkat ke Malaysia untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit.