Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang melakukan riset mengenai pemanfaatan pelepah kelapa sawit dan biomassa lokal untuk menghasilkan berbagai produk seperti bio-oil, gas, biochar, serta senyawa kimia industri dengan menggunakan teknologi termokimia.
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan oleh Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Dieni Mansur, dijelaskan mengenai potensi teknologi termokimia, khususnya metode pirolisis dan hidrotermal likuifaksi (HTL). Teknologi ini dapat mengubah biomassa lignoselulosa menjadi bio-oil, gas, dan biochar.
Dieni menyebutkan bahwa biomassa yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal dapat dikonversi menjadi berbagai produk berharga. Proses pirolisis modern menggunakan reaktor seperti fixed bed, fluidized bed, dan auger, yang dapat menghasilkan hingga 75 persen bio-oil.
Hidrotermal likuifaksi (HTL) merupakan metode yang cocok untuk biomassa dengan kadar air tinggi seperti alga dan lumpur biomassa. Proses ini menggunakan air pada suhu antara 250 hingga 374 derajat Celsius dan tekanan 20 hingga 250 bar sebagai reaktan sekaligus katalis.
Dieni juga menyoroti potensi biomassa lokal, di mana pemrosesan kulit kakao dapat menghasilkan 51 persen asap cair yang mengandung asam karboksilat dan keton. Selain itu, ampas biji kapulaga menghasilkan 52 persen asap cair yang kaya akan asam asetat, metanol, dan hidroksiaseton. Sekam padi dan ranting kayu putih juga menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam proses ini.
Dengan penggunaan katalis zirkonia oksida besi, asap cair yang dihasilkan dapat diolah lebih lanjut. Proses ini menghasilkan masing-masing 18 persen aseton dan metil etil keton, yang banyak digunakan dalam industri pelarut, resin, antiseptik, dan farmasi.
Inovasi dalam ko-pirolisis biomassa dengan limbah plastik juga menunjukkan hasil yang positif dengan meningkatkan kualitas dan rendemen bio-oil. Contohnya, ko-pirolisis cangkang sawit dengan plastik jenis PE atau PET dapat menghasilkan bio-oil dengan nilai kalor antara 32 hingga 34 MJ/kg.
Selain itu, campuran pelepah kelapa sawit dengan polistirena mampu menghasilkan fraksi yang setara dengan bensin dan diesel, dengan perolehan bio-oil mencapai 80 persen pada rasio tertentu. Bio-oil hasil ko-pirolisis juga berpotensi digunakan sebagai aditif bahan bakar, meningkatkan nilai oktan bensin dari 90 menjadi 91,5.
Asap cair dari proses pirolisis memiliki manfaat yang luas. Kandungan asam asetat dan fenol menjadikannya memiliki sifat antibakteri dan antioksidan. Penggunaan 5 persen asap cair dalam edible film dapat memperpanjang masa simpan buah.