Mamuju, Sulawesi Barat - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,36 persen sepanjang tahun 2025. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh lonjakan produksi kelapa sawit yang telah mendongkrak sektor riil dan industri di wilayah tersebut.
Angka pertumbuhan kumulatif dari triwulan I hingga triwulan IV tahun 2025 ini menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Pada tahun 2024, ekonomi Sulawesi Barat tercatat tumbuh sebesar 4,76 persen secara tahunan.
Kepala BPS Provinsi Sulawesi Barat, Suri Handayani, mengungkapkan bahwa peningkatan produksi pada sektor pertanian, perkebunan, industri, dan perdagangan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi daerah. Sektor perkebunan, khususnya, menunjukkan kinerja yang sangat positif, didorong oleh komoditas unggulan yang dihasilkan.
Produksi kelapa sawit menjadi salah satu faktor kunci dalam peningkatan produk domestik regional bruto. Aktivitas panen dan perluasan hasil produksi kelapa sawit memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. BPS mencatat bahwa optimalisasi luas lahan serta kondisi iklim yang mendukung produktivitas berperan penting dalam tren positif ini.
Suri Handayani menekankan pentingnya komoditas perkebunan dalam struktur ekonomi daerah. Ia menjelaskan bahwa kelapa sawit, cengkeh, dan kopi merupakan produksi unggulan di Sulawesi Barat. Peningkatan volume Tandan Buah Segar (TBS) berpengaruh langsung terhadap operasional pabrik pengolahan di wilayah tersebut, yang mengalami kenaikan output signifikan, terutama pada produk minyak sawit mentah dan berbagai produk turunannya.
Meskipun terdapat beberapa komoditas perkebunan lain yang mengalami penurunan, performa kelapa sawit tetap stabil. Kestabilan ini memungkinkan sektor riil untuk terus berkembang, menutupi penurunan pada komoditas yang sedang lesu.
Keterkaitan antara aktivitas di hulu perkebunan dan hilirisasi pada industri pengolahan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sinergi ini memperkuat struktur ekonomi Sulawesi Barat dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas global.
Data BPS juga menunjukkan bahwa selain kelapa sawit, komoditas penghasil minyak atsiri mencatatkan kenaikan produksi. Diversifikasi pada subsektor perkebunan semusim turut berkontribusi dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi daerah.
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada triwulan IV tahun 2025 menutup rangkaian kinerja positif sepanjang tahun. Fokus pada peningkatan produksi komoditas unggulan berhasil menempatkan sektor perkebunan sebagai kontributor terbesar dalam struktur ekonomi provinsi tersebut.