Jakarta, HAISAWIT - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencapai 5,03 persen pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan kinerja ekonomi yang solid dan menjadikan Sumsel sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan yang menjanjikan di Indonesia.
Pada kuartal II tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Sumsel bahkan meningkat menjadi 5,42 persen, yang merupakan capaian tertinggi dalam empat tahun terakhir. Hal ini mencerminkan kontribusi signifikan dari sektor unggulan daerah, terutama industri kelapa sawit.
Sesuai dengan data dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) yang diakses pada Selasa (16/9/2025), produk domestik regional bruto (PDRB) Sumsel dengan harga berlaku tercatat sebesar Rp663,96 triliun. PDRB per kapita di provinsi ini mencapai Rp75,13 juta. Luas area perkebunan sawit di Sumsel juga menunjukkan angka yang signifikan, yaitu 1.407.544 hektare dengan produksi minyak sawit mentah (CPO) mencapai 4,1 juta ton per tahun.
Industri kelapa sawit di Sumsel tidak hanya berkontribusi pada perekonomian daerah, tetapi juga berperan dalam pembangunan sosial. Perkebunan rakyat, baik yang berbasis plasma maupun mandiri, telah menciptakan pusat pertumbuhan baru di kawasan pedesaan yang sebelumnya kurang berkembang.
Perkembangan industri sawit di Sumsel melibatkan kolaborasi antara perusahaan inti dan petani plasma. Seiring berjalannya waktu, perkebunan rakyat mandiri juga mulai tumbuh, memperkuat ekonomi pedesaan melalui peningkatan produktivitas dan pendapatan.
Hubungan erat antara produksi CPO dan pengurangan tingkat kemiskinan di Sumsel juga terlihat dari data yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan 10 persen dalam produksi CPO berpotensi menurunkan persentase penduduk miskin sebesar 5,8 persen.
Transformasi kawasan pedesaan menuju agropolitan menjadi bukti nyata perkembangan industri sawit. Infrastruktur penunjang seperti pasar, perkantoran, dan fasilitas sosial mulai berkembang di wilayah sentra perkebunan sawit di Sumsel.
Selain sebagai penggerak ekonomi pedesaan, industri sawit juga memberikan dukungan positif bagi pembangunan lintas sektor. Peningkatan produktivitas kelapa sawit berimbas pada sektor tenaga kerja dan sektor usaha lainnya di perkotaan.
Kontribusi sektor sawit terlihat jelas dalam proses transformasi ekonomi Sumsel, yang beralih dari ketergantungan pada sumber daya non-terbarukan ke sektor energi terbarukan berbasis hilirisasi sawit, termasuk produk seperti oleofood, oleokimia, dan biofuel.
Dengan dukungan infrastruktur yang kuat dan basis produksi yang kokoh, industri kelapa sawit di Sumsel memainkan peran penting dalam menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru, sehingga memperkuat posisi provinsi ini sebagai salah satu sentra perkebunan terbesar di Indonesia.