JAKARTA: Tahun 2025 memperlihatkan dinamika pelik bagi banyak perusahaan yang gagal beradaptasi dengan perubahan pasar dan persaingan. Dampaknya adalah penutupan usaha, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan bertambahnya jumlah pengangguran di Indonesia.
Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat terdapat lebih dari 79.000 orang yang di-PHK antara Januari sampai November 2025. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2024, ketika Indonesia mencatat sekitar 77.965 PHK sepanjang tahun.
Salah satu penyumbang terbesar adalah tutupnya PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), perusahaan yang sempat merajai dunia tekstil dan garmen Indonesia.
Sritex menghentikan operasi pabriknya pada 1 Maret 2025 setelah dilanda tekanan keuangan dan melemahnya permintaan, yang memicu PHK terhadap 10.669 karyawan pada awal 2025. Kondisi perusahaan juga diperberat oleh persaingan produk impor berharga lebih murah, terutama dari China dan Vietnam, yang menekan daya saing industri tekstil domestik.
Sritex hanya satu dari beberapa perusahaan yang gulung tikar dan menyumbang angka pengangguran. Kondisi ini tidak hanya dialami di Indonesia, melainkan juga di beberapa negara di tengah kondisi ekonomi yang semakin tidak pasti, persaingan ketat dan perubahan selera pasar.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang faktor apa yang membuat sebagian perusahaan mampu bertahan, sementara yang lain tersingkir.
Sejumlah ekonom kepada CNA Indonesia menilai kemampuan perusahaan untuk tumbuh dan bertahan di kondisi saat ini, termasuk menghadapi ancaman tarif dan pergeseran rantai pasok, ditentukan dari kemampuan mereka beradaptasi.
"Tantangan umum yang kita hadapi adalah kemampuan inovasi dan adaptasi terhadap perubahan pasar, misalnya perubahan perilaku konsumen," kata ekonom Siwage Dharma Negara, koordinator Program Studi Indonesia di ISEAS–Yusof Ishak Institute.
Dalam kondisi ekonomi yang semakin tidak pasti, para pakar mengatakan perusahaan yang mampu membaca pergeseran permintaan, menyesuaikan model bisnis, serta bersikap lebih lincah dalam mengambil keputusan dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang. Sebaliknya, sikap konservatif dan ketergantungan pada cara lama justru menjadi penghambat utama skalabilitas bisnis.
"Model bisnis yang bisa bertahan adalah model bisnis yang fleksibel menyesuaikan perkembangan pasar," lanjut Siwage.
Topik ini dan berbagai isu lainnya akan dibahas dalam CNA Summit 2026 di Jakarta pada 5 Februari 2026.
Dalam gelarannya yang ketujuh, forum ini mempertemukan para pengambil keputusan dan tokoh berpengaruh untuk berbagi perspektif serta strategi pertumbuhan cerdas di era baru investasi dan inovasi.
Pertama kali diadakan pada 2020, CNA Summit sebelumnya mengangkat beragam tema, mulai dari ekonomi digital dan kesehatan mental hingga pemulihan berkelanjutan dan dilema kepemimpinan.
Penyelenggaraan di Jakarta menandai pertama kalinya CNA Summit digelar di luar Singapura dan akan disiarkan kepada audiens global secara langsung di Youtube CNA.