Teuku Yudhistira, yang baru-baru ini dipecat dari Ikatan Wartawan Online (IWO), kini terlibat dalam kontroversi setelah mendirikan organisasi tandingan dengan nama Perkumpulan Wartawan Warta Online (WWO). Pemecatan Yudhistira diumumkan setelah ia diduga melakukan pelanggaran berat terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) IWO, termasuk mengeluarkan surat keputusan palsu dan menyalahgunakan atribut organisasi.
IWO, yang didirikan pada 8 Agustus 2012, merupakan organisasi profesi wartawan yang berkomitmen pada profesionalisme dan integritas. Legalitasnya diakui melalui Akta Pendirian Nomor 22 yang dikeluarkan pada 12 Juni 2017. Saat ini, IWO dipimpin oleh Ketua Umum Dwi Christianto, S.H., M.Si. Pemecatan Yudhistira tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 019/Skep/PP-IWO/VII/2023 dan dinyatakan sah serta mengikat.
Setelah pemecatannya, Yudhistira mendirikan WWO pada 29 Juli 2024. Ia juga mengklaim hak cipta atas logo IWO dan menggugat organisasi tersebut di Pengadilan Negeri Medan. Tindakan ini menuai kritik karena logo IWO merupakan hasil karya kolektif sejak pendiriannya, dan pendaftaran hak cipta oleh Yudhistira dianggap cacat hukum.
Menurut UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, pendaftaran ciptaan yang diajukan dengan itikad buruk dapat dibatalkan. Selain itu, pencatatan ciptaan tidak dapat dilakukan terhadap logo atau tanda yang digunakan sebagai lambang organisasi. Oleh karena itu, klaim Yudhistira terhadap logo IWO dinilai tidak memiliki dasar hukum yang kuat.
Ketua Umum IWO, Dwi Christianto, menegaskan bahwa identitas dan logo organisasi adalah milik kolektif, bukan individu. Ia menekankan bahwa pemecatan Yudhistira adalah sah dan setiap klaim yang diajukan olehnya adalah bentuk pelecehan hukum. Dwi juga menegaskan bahwa IWO akan melawan upaya perampasan identitas organisasi di setiap arena hukum.
Kasus ini menjadi preseden buruk bagi dunia jurnalistik, di mana manipulasi fakta dan penyalahgunaan atribut profesi dapat merusak reputasi jurnalis. Tindakan Yudhistira tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga menodai martabat ribuan jurnalis yang bernaung di bawah IWO.