Jakarta, HAISAWIT – Penelitian mengenai pemanfaatan limbah kelapa sawit untuk energi terbarukan semakin mendapatkan perhatian. Salah satu fokus utama adalah konversi tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi bioetanol generasi kedua (G2).
Roni Maryana, Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Kimia di Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, menyampaikan potensi ini dalam Orasi Pengukuhan Profesor Riset yang berlangsung di Jakarta pada Rabu, 25 Juni 2025.
“Ketersediaan limbah sawit di Indonesia cukup besar, dengan perkiraan produksi limbah kelapa sawit mencapai 50 juta ton per tahun. Dari biomassa tersebut, diperkirakan dapat dihasilkan lebih dari 1,6 juta ton bioetanol,” ungkap Roni dalam orasinya.
Menurut Roni, pemanfaatan biomassa lokal tidak hanya mendukung kebutuhan energi bersih, tetapi juga membuka peluang untuk industrialisasi yang berkelanjutan. “Dengan memanfaatkan biomassa lokal, kita dapat mengurangi ketergantungan dan menciptakan nilai tambah bagi industri baru yang ramah lingkungan,” tambahnya.
Dalam pemaparannya, Roni juga menegaskan bahwa bioetanol G2 yang dihasilkan dari TKKS tidak bersaing dengan kebutuhan pangan, berbeda dengan bioetanol G1 yang berbahan dasar sumber makanan seperti tebu dan jagung.
Roni menjelaskan bahwa timnya telah mengembangkan teknologi yang mencakup reaktor portabel skala laboratorium serta screw continuous reactor (SCR) skala pilot, yang dapat mengolah biomassa secara kontinu dengan efisiensi tinggi. Ia juga menekankan pentingnya pengembangan reaktor delignifikasi untuk meningkatkan efisiensi konversi biomassa lignoselulosa menjadi bioetanol.
Di akhir orasinya, Roni menegaskan pentingnya inovasi dari sisi hulu hingga hilir untuk mendukung transisi energi bersih di Indonesia. “Inovasi konversi biomassa kini menjadi harapan baru dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam energi bersih dan berkelanjutan,” tuturnya.
BRIN mencatat bahwa bioetanol dari TKKS merupakan bagian dari pengembangan bioenergi nasional, sesuai dengan Perpres No. 40 Tahun 2023 yang mengatur percepatan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati. Saat ini, Indonesia baru mencapai 14,1 persen dari target energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen dalam bauran energi nasional tahun 2025, sebagaimana ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN).