Potensi Sawit sebagai Penyerap Karbon Efisien
Pusat Online

Potensi Sawit sebagai Penyerap Karbon Efisien

Jakarta, HAISAWIT - Isu perubahan iklim global semakin mendesak perhatian dunia. Di tengah upaya mitigasi yang dilakukan melalui pengurangan emisi, sawit muncul sebagai tanaman dengan potensi besar dalam menyerap karbon. Menurut data dari Perhimpunan Ahli Serat dan Pangan Indonesia (PASPI), kelapa sawit dapat menyerap karbon dioksida hingga 64,5 ton per hektare per tahun.

Proses penyerapan karbon ini terjadi melalui fotosintesis asimilasi, di mana tanaman kelapa sawit menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya dalam bentuk biomassa, baik di atas tanah maupun di bawah tanah selama siklus hidupnya. Data dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) mencatat bahwa batang sawit berusia 25 tahun menyimpan sekitar 29,13 ton karbon per hektare, yang merupakan bagian dari total 39,94 ton karbon yang dapat tersimpan.

Jika dibandingkan, hutan tropis rata-rata hanya mampu menyerap sekitar 25 ton karbon per hektare per tahun. Kapasitas penyerap karbon sawit yang lebih tinggi ini disebabkan oleh fase pertumbuhan aktifnya yang memungkinkan laju fotosintesis yang optimal.

Biaya penyerapan karbon oleh sawit tercatat berkisar antara US$5 hingga US$15 per ton, atau sekitar Rp82 ribu hingga Rp246 ribu. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan teknologi direct air capture (DAC) yang memerlukan biaya antara US$500 hingga US$1.000 per ton karbon. Selain itu, teknologi DAC juga membutuhkan energi yang besar, sekitar 1.500 hingga 2.500 kWh per ton CO₂, sementara sawit hanya memanfaatkan energi matahari melalui proses fotosintesis, menjadikannya lebih efisien.

Karakteristik tanaman sawit seperti pertumbuhan yang cepat, kanopi yang lebar, produksi yang tinggi, siklus hidup yang panjang, dan perakaran yang dalam, menjadikannya unggul dalam menyimpan karbon secara berkelanjutan. Menurut PASPI Monitor, jika dihitung berdasarkan luas perkebunan sawit di Indonesia, kemampuan agregat sawit dalam menyerap karbon sangat signifikan dan memberikan kontribusi besar dalam menurunkan emisi karbon.

Lebih jauh, perkebunan sawit berfungsi sebagai penyerap karbon bersih atau carbon sink, yang merupakan bagian dari solusi alami dalam mitigasi perubahan iklim di tingkat global. Selain itu, perkebunan sawit juga berperan dalam mengurangi emisi dengan menggantikan energi fosil melalui biofuel sawit. Dengan dua mekanisme ini, kontribusi sawit dalam upaya mengurangi gas rumah kaca menjadi semakin berlapis.

You can share this post!