PT Teladan Prima Agro Tbk Optimalkan Produksi Kelapa Sawit dengan Teknologi Penginderaan Jauh
Pusat Online

PT Teladan Prima Agro Tbk Optimalkan Produksi Kelapa Sawit dengan Teknologi Penginderaan Jauh

Jakarta, HAISAWIT – PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) menerapkan teknologi penginderaan jauh untuk meningkatkan produksi kelapa sawit secara berkelanjutan tanpa perlu membuka lahan baru. Perusahaan ini menargetkan penerapan teknologi tersebut pada awal tahun 2026.

Dengan menggunakan sistem Teladan Productivity Technology Science (TPTS), TLDN dapat memantau area operasional yang luas, mencakup Kabupaten Berau, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, hingga Kabupaten Paser. Teknologi ini memanfaatkan citra satelit dan drone sebagai instrumen penting dalam pengawasan lebih dari 8 juta pohon kelapa sawit yang dikelola perusahaan.

Head of Precision Agriculture Section TPA, Sali Subakti, menjelaskan, "Melalui TPTS, perusahaan dapat memantau jutaan pohon sawit dengan cepat tanpa perlu melakukan pengecekan satu per satu. Penggunaan teknologi penginderaan jauh menjadi sangat krusial mengingat adanya variabilitas spasial dan temporal yang dihadapi di lapangan."

Sali menambahkan bahwa adopsi teknologi berbasis data ini telah mengubah manajemen perkebunan dari yang bersifat tradisional menjadi lebih presisi. Hal ini terutama berpengaruh pada efisiensi penggunaan bahan kimia di lapangan.

"Dengan data yang berkualitas dari TPTS dan dukungan teknologi, dosis pupuk dan pestisida dapat diatur sesuai dengan prinsip 5T dan memenuhi aspek keseimbangan hara, yang dapat mengurangi pemborosan input sekitar 20%-30%. Teknologi yang diadopsi TPTS ini telah mengubah pola pengelolaan operasional dari yang reaktif atau seragam menjadi lebih prediktif dan proaktif berbasis data," jelasnya.

Sistem TPTS mengintegrasikan algoritma model pembelajaran mesin untuk mengolah data kompleks menjadi basis operasional kecerdasan buatan dalam mendeteksi anomali tanaman. Beberapa parameter penting yang dipantau melalui kontrol pusat meliputi:

  • Indeks kehilangan Tandan Buah Segar (TBS).
  • Dampak fenomena iklim ekstrim seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO).
  • Kondisi cadangan air pada setiap blok produksi.

Sali juga menjelaskan, sensor yang digunakan dalam teknologi ini mampu menjangkau detail terkecil yang tidak dapat dipantau secara manual oleh tim lapangan dalam waktu singkat. "Penerapan teknologi remote sensing dengan sensor multispectral/hiperspektral dalam TPTS ini berfungsi seperti 'mata elang' di langit kebun TPA, memungkinkan kami untuk memperoleh informasi akurat mengenai kondisi setiap jengkal lahan dan titik tanam sawit," ujarnya.

Data yang dihasilkan akan divalidasi melalui pengecekan lapangan untuk memetakan potensi kesenjangan hasil pada setiap blok tanaman dalam periode 3 hingga 24 bulan mendatang. Implementasi teknologi TPTS ini juga menjadi bukti ilmiah bagi TLDN dalam menghadapi sentimen negatif terkait isu deforestasi, melalui penerapan manajemen nutrisi spesifik lokasi.

You can share this post!