JAKARTA - Dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana dan ketahanan komunitas, Dompet Dhuafa mengadakan kegiatan bertajuk "Ruang Cerita Daring - Berangkat Bareng, Bangkit Bersama Untuk Kemanusiaan". Acara yang berlangsung pada Kamis, 7 Januari 2026, ini menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya Ahmad Lukman dari DMC Dompet Dhuafa, Dimas Dwi Pangestu CEO Youth Ranger Indonesia, dan Slamet Widodo, relawan Ambulance Dompet Dhuafa Yogyakarta.
Dalam sesi pertama, Ahmad Lukman menekankan pentingnya kolaborasi dalam menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul saat terjadi bencana. Menurutnya, keputusan ini tidak boleh diambil secara sepihak, melainkan harus melibatkan seluruh pihak terkait agar langkah yang diambil dapat diterima dan dilaksanakan oleh semua unsur di lapangan. "Penentuan titik kumpul dan jalur evakuasi harus disepakati bersama. Tidak boleh hanya satu pihak, sementara masukan dari unsur lain seperti petugas keamanan diabaikan," ujarnya.
Lukman juga menyoroti pentingnya latihan rutin seperti simulasi evakuasi dan pelatihan pertolongan pertama. Ia berpendapat bahwa kesiapsiagaan yang efektif harus dibangun secara berkelanjutan dan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan.
Sementara itu, Dimas Dwi Pangestu menjelaskan tentang peran strategis pemuda dalam membangun ketahanan sosial dan keberlanjutan komunitas. Ia memperkenalkan komunitas Youth Ranger Indonesia, yang aktif di 34 provinsi dan fokus pada pengembangan potensi pemuda melalui pelatihan dan pendampingan. "Anak muda Indonesia tidak pernah kekurangan potensi dan kreativitas. Yang masih kurang adalah akses dan sosok pendamping yang mampu mengarahkan potensi tersebut agar berkembang dan berdampak," ungkap Dimas.
Dimas juga menekankan bahwa keberhasilan program sosial tidak hanya diukur dari besarnya acara atau jumlah peserta, tetapi dari keberlanjutan program dan partisipasi aktif masyarakat setelah kegiatan dilaksanakan. Ia mendorong penerapan konsep pentahelix framework, yang melibatkan lima sektor: pemerintah, akademisi, masyarakat, media, dan sektor swasta, agar program yang dijalankan tepat sasaran dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Dimas membagikan pengalamannya saat terlibat langsung dengan Dompet Dhuafa dalam penyaluran bantuan dan pelaksanaan pendidikan darurat di Aceh. Selain distribusi logistik, timnya juga melaksanakan trauma healing, layanan kesehatan gratis, penyediaan air bersih, serta pendampingan psikososial bagi anak-anak dan warga yang terdampak. Ia menekankan pentingnya merancang bantuan kebencanaan berdasarkan asesmen kebutuhan agar tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.