Ruang Kelas Ambruk, 71 Siswa SD di Tabanan Beralih ke Pembelajaran Daring
Ruang Daring

Ruang Kelas Ambruk, 71 Siswa SD di Tabanan Beralih ke Pembelajaran Daring

Tabanan, Bali - Sebanyak 71 siswa dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 3 Sembung Gede, yang terletak di Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, terpaksa menjalani pembelajaran secara daring setelah ruang kelas di sekolah tersebut ambruk.

Kepala SD Negeri 3 Sembung Gede, Pande Komang Juni Arsana, menjelaskan bahwa insiden ambruknya bangunan terjadi pada hari Kamis, 30 April 2026, sekitar pukul 07.45 Wita. Ruang kelas yang roboh adalah untuk siswa kelas IV, V, dan VI, serta satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Penyebab Ambruknya Bangunan

Menurut Juni Arsana, ambruknya bangunan disebabkan oleh hujan deras yang terjadi pada saat itu, ditambah dengan kondisi bangunan yang sudah tua dan mulai rapuh. Bangunan sekolah tersebut diketahui sudah berdiri sejak tahun 1969 dan terakhir kali direhabilitasi pada tahun 2006, khususnya pada bagian atap.

Penyesuaian Proses Belajar Mengajar

Setelah kejadian tersebut, pihak sekolah melakukan penyesuaian dalam proses pembelajaran. Siswa kelas IV, V, dan VI masih dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di ruang lain yang masih aman. Namun, siswa kelas I, II, dan III dialihkan ke pembelajaran daring untuk sementara waktu.

“Untuk tiga kelas yang daring, totalnya ada 71 siswa,” ungkap Juni Arsana.

Rencana Lokasi Belajar Sementara Dibatalkan

Pada rapat yang diadakan dengan komite sekolah, muncul usulan untuk memanfaatkan wantilan di Balai Serbaguna Desa Adat Mandung sebagai lokasi belajar sementara. Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan karena kekhawatiran soal keamanan. Lokasi tersebut terletak di pinggir jalan raya Denpasar–Gilimanuk yang ramai kendaraan, sehingga komite khawatir akan keselamatan siswa. Ditambah lagi, jumlah tenaga pengajar yang terbatas menjadi pertimbangan lainnya.

Kondisi Sumber Daya Sekolah

Saat ini, SD Negeri 3 Sembung Gede hanya memiliki delapan orang guru, satu tenaga tata usaha, dan satu kepala sekolah. Dengan jumlah sumber daya yang terbatas, sekolah dinilai tidak dapat mengawasi siswa di dua lokasi berbeda secara bersamaan.

Usulan Perbaikan Bangunan

Pihak sekolah telah mengajukan usulan perbaikan bangunan kepada Dinas Pendidikan. Namun, hingga saat ini, proses perbaikan belum dilaksanakan, dan bangunan tersebut ambruk sebelum perbaikan dapat dilakukan. “Usulan sudah diajukan, dan kami dijadwalkan untuk direhab tahun ini, tapi keburu ambruk duluan,” jelas Juni Arsana.

You can share this post!