Di Batam, banyak orangtua yang berkeinginan menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah favorit. Hal ini menyebabkan beberapa sekolah, termasuk SMA Negeri 1 Batam, mengalami kelebihan siswa pada tahun ajaran 2023/2024. Akibatnya, sebagian siswa terpaksa mengikuti pembelajaran secara daring, mirip dengan situasi yang terjadi pada masa pandemi.
Kepala SMA Negeri 1 Batam, Bahtiar, menjelaskan bahwa pembelajaran daring ini akan mengikuti jadwal yang sama dengan siswa yang belajar secara langsung (luring). “Jam masuknya sama, pelajaran sama, harus menggunakan seragam juga, cuma mereka hanya tidak memiliki ruang kelas saja,” ujarnya.
Keputusan untuk menerapkan pembelajaran daring diambil setelah banyaknya siswa yang tidak tertampung selama proses penerimaan peserta didik baru (PPDB). Meskipun jumlah siswa yang diterima hanya 500 dengan total 14 rombongan belajar, banyak orangtua tetap memilih untuk menyekolahkan anak mereka di SMA Negeri 1 Batam. Hal ini membuat daring menjadi opsi agar semua siswa dapat bersekolah di tempat yang mereka inginkan.
Bahtiar sebelumnya menyarankan kepada orangtua untuk mempertimbangkan pendaftaran di SMA Negeri terdekat yang masih memiliki kekurangan siswa. Namun, banyak orangtua yang tetap pada pendirian untuk mendaftarkan anak mereka di sekolah tersebut. “Setelah mendapat arahan dari Kepala Dinas, saya membuka kuota tambahan dan memberi tahu orang tua bahwa hanya ada kelas online,” tambahnya.
Meski pembelajaran dilakukan secara daring, Bahtiar menegaskan bahwa siswa tetap akan mendapatkan hak yang sama dalam proses pembelajaran. Ia berharap situasi ini tidak akan berlangsung lama, mengingat ada lima ruang kelas yang rusak. “Jika ruang kelas cepat diperbaiki, pembelajaran langsung bisa segera dimulai. Kami perkirakan paling sedikit enam bulan, paling lama setahun,” ujarnya.
Siswa yang belajar secara daring tetap akan diundang ke sekolah untuk materi-materi yang memerlukan praktik serta untuk kegiatan ekstrakurikuler. Menurut Bahtiar, “Hanya belajar teorinya saja di rumah.”
Bahtiar juga menyatakan bahwa tidak ada kendala terkait jumlah guru yang akan mengajar siswa baru. “Jumlah guru cukup,” pungkasnya.