Portal Media Online - Oleh: ๐๐ฎ๐ ๐๐๐ฌ๐ฆ๐๐ง
๐๐ฐ๐ด๐ฆ๐ฏ ๐๐ข๐ฌ๐ถ๐ญ๐ต๐ข๐ด ๐๐ข๐ฌ๐ธ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฐ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ด๐ช ๐๐๐ ๐๐ญ๐ข๐ถ๐ฅ๐ฅ๐ช๐ฏ ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ด๐ด๐ข๐ณ
PELUIT panjang tanda berakhirnya babak penyisihan, baru saja ditiup.
Sepuluh hari pertama Ramadan telah terlewati sebagai fase adaptasi penuh antusiasme.
Saking semangatnya, terdapat jemaah menghamparkan sajadah lebih awal demi menantikan shalat tarawih usai Magrib. Niat diperbarui, energi spiritual membuncah, dan masjid dipadati insan bertakwa penuh harap.
Suasana terasa persis laga pembuka liga kampung bercita rasa final Piala Dunia.
Pekan pertama, shaf begitu rapat; bahu saling bersentuhan dalam keakraban. Sisulle sipalabeโ!
Semua kalangan turun ke โlapangan hijauโ Ramadan untuk menunaikan shalat tarawih: anak-anak, remaja, orang tua, Tomatoa Kaliddong, janda pirang, hingga komunitas Calabai Kotek. Semuanya membawa tekad samaโberharap dosa terhapus dan surga diraih.
Area parkir masjid meluap. Sandal berderet dan saling berdesakan laksana suporter PSM berebut tribun. Sebagian jamaah datang lebih awal demi mendapatkan shaf terdepan; sebagian lainnya membaca Al-Qurโan serta berzikir menggunakan tasbih digital mungil berbentuk cincin, pemberian seorang teman sepulang dari umrah. Semangat keislaman tampak menggetarkan jagat raya.
Sebagai penceramah, saya kadang berdiri di mimbar menyampaikan hadis Rasulullah SAW, sekaligus menjadi โpemainโ di barisan shaf.
Dari posisi itu, โstatistik spiritualโ terlihat menanjak tajam. Jamaah hadir dengan wajah cerah, merasa peluang lolos ke fase berikut masih terbuka lebar.
Kini, malam kesebelas tiba. Selamat datang di babak semifinal.