Portal Media Online - Petani kelapa sawit di Desa Ukui Dua, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, menerapkan strategi pasif untuk menghadapi krisis ekonomi selama masa peremajaan tanaman yang tidak lagi produktif.
Para petani mengambil langkah ini karena tanaman baru membutuhkan waktu empat hingga lima tahun untuk menghasilkan buah. Selama masa tunggu, pendapatan utama keluarga petani hilang total. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), luas areal tanaman perkebunan di Ukui menyusut dari 63.162 hektar pada 2020 menjadi 16.074 hektar pada 2021. Penurunan ini terkait dengan proses peremajaan pohon tua berusia di atas dua puluh lima tahun yang tidak memberikan manfaat ekonomis.
Strategi pasif menjadi andalan bertahan hidup petani, mengingat mayoritas informan tidak memiliki pekerjaan sampingan. Kondisi ekonomi rumah tangga petani sangat bergantung pada kemampuan mengelola konsumsi harian dan efisiensi anggaran. Langkah nyata yang diambil termasuk penghematan ketat, menunda pembelian barang tidak mendesak, serta pengurangan pengeluaran untuk kebutuhan sekunder. Para petani juga mengurangi penggunaan listrik dan air, serta membatasi uang jajan anak-anak.
Pusat pengeluaran dialihkan untuk kebutuhan primer seperti makan dan pendidikan anak. Biaya peremajaan kebun mencapai sekitar Rp25.000.000 per hektar, dan petani tidak memiliki pemasukan selama tiga tahun. Pinjaman alat berat dari pemerintah daerah membantu, namun tidak ada bantuan langsung dari pemerintah pusat. Ketergantungan pada satu jenis komoditas tanpa diversifikasi ekonomi membuat petani rentan saat peremajaan lahan. Meskipun langkah efisiensi ini bersifat jangka pendek, strategi ini efektif dalam menjaga kelangsungan hidup keluarga petani hingga tanaman kembali produktif.