Syamsun Ramli: Perjuangan Mahasiswa Doktor ITB Usai Paraplegia untuk Riset Tahan Gempa
Sosial

Syamsun Ramli: Perjuangan Mahasiswa Doktor ITB Usai Paraplegia untuk Riset Tahan Gempa

SUMEDANG BAGUS — Di tengah aktivitas akademik yang dinamis di Institut Teknologi Bandung (ITB), Syamsun Ramli (48 tahun) menjalani kesehariannya sebagai mahasiswa Program Doktor Arsitektur dengan kursi roda. Keterbatasan fisik akibat kecelakaan 28 tahun silam tak menghalanginya menekuni riset sistem struktur penahan gempa untuk bangunan bertingkat berkelanjutan.

Perjalanan Ramli menuju jenjang doktoral bukan tanpa hambatan. Pada tahun 1998, saat masih mahasiswa semester dua Teknik Sipil di Universitas Brawijaya (UB), ia terjatuh dari ketinggian sekitar 17 meter saat latihan panjat tebing. Cedera tersebut merusak ruas tulang belakang torakal (T5–T8) dan menyebabkan paraplegia atau kelumpuhan tubuh bagian bawah.

“Awalnya saya menolak menggunakan kursi roda. Rasanya seperti akhir dari segalanya,” ujarnya mengenang.

Masa pemulihan berlangsung panjang dan berat. Selama hampir satu dekade, ia bergantung pada bantuan orang lain untuk aktivitas dasar. Dukungan orang tua, terutama sang ibu, menjadi penopang utama. Setiap hari ia dilatih menggunakan alat bantu jalan, meski harapan untuk kembali berjalan sepenuhnya kian menipis.

Dalam fase krusial itu, peran tenaga medis turut menentukan. Ramli menyebut nama dr. Tjuk Risantoso, Sp.OT, dokter spesialis ortopedi yang bersedia melakukan operasi tulang belakangnya ketika banyak pihak meragukan peluang pemulihan. Tak hanya tindakan medis, dukungan moral dan finansial juga diberikan agar Ramli menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.

“Beliau bukan hanya membantu pemulihan fisik saya, tapi juga masa depan saya,” kata Ramli.

Solidaritas rekan-rekan kuliah juga menjadi penopang. Saat mengalami kesulitan ekonomi, teman-temannya membantu kebutuhan sehari-hari hingga ia dapat menuntaskan studi sarjana Teknik Sipil.

Namun tantangan belum usai setelah lulus. Ramli membutuhkan waktu delapan tahun untuk memperoleh pekerjaan tetap. Dalam setiap lamaran, ia selalu menyampaikan kondisinya sebagai pengguna kursi roda. Kesempatan pertama datang dari CV Tiga Pilar di Malang, tempat ia bekerja sebagai Site Engineer dan Desainer. Dari sana, ia mengasah pemahaman tentang keterpaduan desain, struktur, dan implementasi di lapangan.

You can share this post!