Telkom Alihkan Bisnis dan Aset Fiber Optik Rp 35,8 Triliun ke Telkom Infrastruktur Indonesia
Teknologi

Telkom Alihkan Bisnis dan Aset Fiber Optik Rp 35,8 Triliun ke Telkom Infrastruktur Indonesia

Di kancah internasional, teknologi telekomunikasi saat ini mengharuskan adanya berbagi-pakai infrastruktur jaringan antar-operator agar efisien.

Oleh Caecilia Mediana

22 Okt 2025 15:13 WIB · Ekonomi & Bisnis

JAKARTA, KOMPAS — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk telah menandatangani kesepakatan pemisahan bersyarat atau conditional spin-off agreement bisnis dan aset jaringan fiber optik dengan anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia. Nilai transaksi mencapai Rp 35,8 triliun. Aksi korporasi ini mendukung efisiensi infrastruktur jaringan telekomunikasi secara nasional.

Penandatanganan kesepakatan pemisahan bersyarat bisnis dan aset fiber optik dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau Telkom ke anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF), berlangsung awal pekan ini. Setelah aksi korporasi dilakukan, TIF bakal mempunyai lebih dari 50 persen dari seluruh aset infrastruktur jaringan kabel optik Telkom, yakni jaringan tulang punggung (backbone), akses (lastmile), agregasi, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Seusai transaksi, Telkom masih memiliki 99,9 persen saham TIF. TIF berkomitmen akan berkolaborasi secara netral dalam menyediakan layanan wholesale fiber connectivity kepada pihak internal Telkom Group dan operator telekomunikasi lain.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia yang dikutip Rabu (22/10/2025), Senior Vice President Corporate Secretary Telkom Jati Widagdo mengatakan, tidak ada dampak signifikan transaksi itu terhadap kondisi keuangan Telkom. Sebab, aksi itu dilakukan Telkom dengan anak usaha.

”Aksi ini bertujuan agar Telkom lebih fokus mengembangkan bisnis, menciptakan nilai tambah, lebih efisien, dan mengoptimalkan pemanfaatan aset jaringan fiber optik,” ujar Jati.

Secara terpisah, Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyampaikan, pemisahan bisnis dan aset jaringan fiber optik itu menjadi langkah strategis Telkom merespons pesatnya transformasi digital dan maraknya permintaan infrastruktur telekomunikasi berkapasitas tinggi. Telkom berharap keberadaan TIF seusai transaksi ini bisa memperkuat posisi Telkom Group sebagai pemain utama di industri infrastruktur telekomunikasi nasional.

Menurut Dian, aksi korporasi yang dilakukan Telkom dengan TIF sudah lazim di kancah global. Sejumlah operator telekomunikasi di negara lain, seperti Telstra (Australia), Telecom Italia, dan Telefonica (Spanyol) juga melakukan hal sama. Mereka telah membuktikan, pembentukan entitas pengelola bisnis infrastruktur secara terpisah sukses mendongkrak valuasi dan efisiensi.

Ketua Bidang Rekomendasi Kebijakan dan Hukum Telematika Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Johny Siswadi, saat dihubungi pada Rabu (22/10/2025), di Jakarta, berpendapat, pemisahan bisnis dan aset jaringan fiber optik Telkom ke TIF akan membawa manfaat besar bagi industri telekomunikasi di Indonesia. Asalkan, setelah pemisahan, TIF benar-benar bisa berperan sebagai penyedia infrastruktur jaringan yang netral dan tidak cenderung berpihak ke salah satu operator telekomunikasi.

Untuk jaringan tulang punggung telekomunikasi, setiap operator telekomunikasi memiliki sendiri penyedia infrastrukturnya, kecuali Telkomsel selaku anak usaha Telkom di sektor layanan seluler. Demikian pula untuk bisnis infrastruktur jaringan akses.

Penyedia layanan internet sekaligus televisi kabel seperti MyRepublic dan Megavision telah memiliki infrastruktur jaringan akses sendiri. Namun, mereka tidak menyewakannya kepada penyedia lain. Sejauh ini, Johny menyebut, penyedia jaringan akses fiber optik terluas di Indonesia masih Telkom.

Di kancah internasional, teknologi telekomunikasi mengharuskan adanya berbagi -pakai infrastruktur jaringan antar-operator agar efisien. Regulasi di Indonesia melalui Undang-Undang Cipta Kerja juga telah melegalkan metode itu digunakan oleh para operator.

”Bisnis infrastruktur jaringan telekomunikasi, terutama jaringan tulang punggung, sangat prospektif ke depan. Proses transformasi digital di Indonesia baru dalam tahap awal. Pada jangka panjang, ketika kota, kantor, dan pabrik cerdas semakin berkembang, jaringan telekomunikasi jadi tumpuan,” katanya.

Menurut Johny, sejumlah perusahaan raksasa teknologi seperti Google dan Meta telah masuk ke ranah infrastruktur telekomunikasi. Keduanya aktif mengembangkan sistem komunikasi kabel laut (SKKL) sehingga menambah kompetisi penyedia jaringan tulang punggung telekomunikasi internasional. Namun, jika tidak ada pemain infrastruktur jaringan dari domestik yang netral, maka layanan internet di Indonesia tidak akan efisien.

Berdasarkan laporan riset ”APAC Telecommunications Outlook 2025” yang dikeluarkan oleh Fitch Ratings (November 2024), profil kredit perusahaan-perusahaan telekomunikasi diperkirakan tetap stabil pada 2025. Hal ini didukung oleh rasio pinjaman modal dan profitabilitas operasional yang solid, persaingan yang rasional setelah konsolidasi industri, dan belanja modal yang moderat.

”Fundamental industri telekomunikasi di seluruh Asia Pasifik seimbang. Kami memperkirakan perusahaan telekomunikasi secara umum akan terus fokus pada profitabilitas dan monetisasi jaringan khusus 5G supaya bisa menaikkan arus kas bebas,” tulis Fitch Rating dalam laporan itu.

aksi korporasi Telkom Telkom Infrastruktur industri telekomunikasi utama fiber optik

Kerabat Kerja

Penulis:

Caecilia Mediana

|

Editor:

FX Laksana Agung Saputra

|

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti

You can share this post!