Transformasi Ruang Kelas Kosong Menjadi Studio Pembelajaran Daring untuk Guru
Ruang Daring

Transformasi Ruang Kelas Kosong Menjadi Studio Pembelajaran Daring untuk Guru

Selama pandemi Covid-19, pembelajaran daring telah menjadi alternatif yang tidak dapat dihindari. Meskipun sejumlah daerah telah memperbolehkan tatap muka di sekolah-sekolah yang berada di zona hijau, kekhawatiran akan potensi penyebaran virus masih menghantui banyak orang tua, guru, dan siswa.

Pembelajaran daring menghadirkan berbagai tantangan, tidak hanya bagi siswa dan orang tua, tetapi juga bagi para guru. Masalah seperti keterbatasan kuota internet dan akses teknologi untuk mengembangkan media pembelajaran yang interaktif menjadi beberapa kendala yang dihadapi.

Herri Mulyono, Ph.D, dosen Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), mengungkapkan pentingnya memanfaatkan ruang kelas kosong dengan mengalihfungsikannya menjadi studio pembelajaran. "Kita perlu belajar dari SMAN 70, yang seperti dikatakan Bu Desi, tentang penyediaan studio pembelajaran. Kita bisa memaksimalkan fungsi ruang-ruang kelas yang kosong, dengan alih fungsi sebagai studio pembelajaran bagi guru yang membutuhkan," ujarnya.

Inisiatif ini menjadi bagian dari seminar bertajuk "Berbagi Praktik Terbaik (Best-Practice) Pembelajaran Daring bersama guru-guru inovatif alumni UHAMKA". Kegiatan ini merupakan upaya pengabdian dan pemberdayaan masyarakat oleh UHAMKA, di mana tiga guru berpengalaman menjadi narasumber.

  • Desi Purnama Kurniawati, S.Pd., M.M, guru SMAN 70 Jakarta, berbagi tips dan trik dalam pembelajaran daring serta mengidentifikasi berbagai permasalahan yang muncul dan solusinya.
  • Adi Stiawan, S.Pd., M.Pd, guru SMAN 92 Jakarta, menjelaskan tentang alternatif teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam pembelajaran daring. Ia juga menghargai dukungan Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta yang telah memberikan fasilitas teknologi kepada para guru.
  • Hazmy Rachman Yusuf, M.Pd, guru SMPIT Ummu'l Quro Depok, membagikan strategi untuk menciptakan pembelajaran daring yang efektif dan menarik. Dalam paparannya, Hazmy mengacu pada survei KPAI yang menunjukkan bahwa 37% siswa mengalami kelelahan dan stres, sementara 42% mengalami kesulitan dalam hal kuota.

Seminar ini diikuti oleh 125 guru dari berbagai jenjang pendidikan, termasuk SD, SMP, SMA, dan SMK, yang berasal dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Kegiatan ini sepenuhnya didukung oleh Lembaga Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) UHAMKA.

You can share this post!