BANTUL, VIVA Jogja – Melalui program pengabdian masyarakat yang inklusif, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) meluncurkan program terapi berkuda bagi penyandang disabilitas. Program ini diperkenalkan dalam kegiatan Program Pengabdian Dosen Skema Disabilitas yang digelar di AFIF Stable Horse Training, Banguntapan.
Kegiatan tersebut menghadirkan kolaborasi lintas disiplin dan internasional. Pusat Studi Gender, Anak, Lansia, dan Disabilitas (PSGALD) UMY bekerja sama dengan Subdirektorat Pengabdian Dosen UMY, mitra akademik dari Jepang, pengelola AFIF Stable, serta komunitas pemerhati disabilitas. Pendekatan yang ditawarkan berupa Equine Assisted Activities, sebuah metode terapi yang memanfaatkan interaksi dengan kuda untuk mendukung pemulihan fisik dan mental penyandang disabilitas.
Sekretaris PSGALD UMY, Dr. Arni Surwanti, M.Si., menjelaskan bahwa tahun ini terdapat sekitar 15 tim dosen pengusul dengan beragam pendekatan, mulai dari pengembangan Sekolah Luar Biasa (SLB), peningkatan kapasitas guru, hingga intervensi langsung bagi penyandang disabilitas. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah aktivitas berkuda. Menurut Arni, metode ini masih tergolong baru di Indonesia, namun di Jepang dan Malaysia telah terbukti memberikan manfaat signifikan. Terapi berkuda, katanya, mampu meningkatkan fleksibilitas tubuh, rasa percaya diri, serta kesehatan mental. Bahkan, manfaat serupa juga dirasakan oleh lansia dan pasien dengan gangguan saraf tertentu.
Meski masih dalam tahap uji coba dengan keterbatasan waktu dan sumber daya, Arni berharap program ini dapat berlanjut dan berkembang. Ke depan, terapi berkuda tidak hanya ditujukan bagi penyandang disabilitas, tetapi juga mahasiswa sebagai sarana penguatan karakter dan kepercayaan diri.
Kepala Subdirektorat Pengabdian Dosen UMY, Dr. drg. Laelia Dwi Anggraini, Sp.KGA., menambahkan bahwa program ini merupakan bagian dari 15 skema pengabdian masyarakat UMY yang dirancang untuk pelaksanaan berkelanjutan hingga tiga tahun mendatang. Menurutnya, khusus untuk skema disabilitas, kegiatan ini melibatkan 15 dosen lintas bidang. Harapannya, program tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Dari sisi kolaborasi internasional, Prof. Ryuhei Sano, Ph.D., dosen Hosei University Jepang sekaligus Project Leader Equine Assisted Activities for Persons with Disabilities in ASEAN and Japan, menekankan pentingnya konsep Human–Horse Well-being, yaitu kesejahteraan manusia dan kuda secara bersamaan. Ia berharap program ini dapat membuka peluang pengembangan komunitas disabilitas lintas negara serta memperkuat jejaring akademik antara ASEAN dan Jepang. “Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi penyandang disabilitas, tetapi juga memperhatikan kesehatan dan perlindungan kuda. Keduanya harus dipikirkan secara seimbang,” ujarnya.