Campak Dapat Picu Disabilitas Pendengaran dan Penglihatan pada Anak
Portal Media Online - Liputan6.com, Jakarta - Campak adalah penyakit infeksi yang dapat berujung pada kondisi disabilitas. Dokter spesialis anak subspesialis Infeksi dan penyakit tropis, Profesor Anggraini Alam mengatakan, tujuh hingga sembilan dari 100 anak yang terkena campak dapat mengalami infeksi telinga. Kondisi ini bisa berujung pada hilangnya kemampuan mendengar.
“’Ah ringan hanya telinganya aja keluar cairan congekan begitu.’ Hati-hati, bila gendang telinganya rusak permanen maka dia (pasien) kehilangan kemampuan pendengarannya,” jelas Anggraini dalam webinar bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Sabtu (28/2/2026).
Tak henti di situ, campak juga bisa membuat mata menjadi kering karena virus campak dapat menggerus vitamin A dalam tubuh. Kelainan mata akibat campak seperti kerusakan kornea dapat berujung pada disabilitas netra. Masalah ini terjadi terutama pada anak-anak malnutrisi yang mengalami defisiensi atau kekurangan vitamin A.
“ Alhamdulillah di Indonesia ini setiap Februari dan Agustus balita diberikan vitamin A sehingga anak Indonesia enggak ada yang buta atau korneanya kering gara-gara campak.”
Pemberian vitamin A rutin menjadi hal penting untuk menjaga kesehatan mata anak termasuk dari bahaya campak.
Belajar dari kasus di India, Anggraini mengatakan bahwa di negara tersebut balita tidak mendapat vitamin A rutin sehingga disabilitas netra terjadi pada anak yang terkena campak.
“Tidak sebagaimana di India yang banyak menemukan kebutaan karena campak,” ucapnya.
Campak Picu Masalah Paru
Selain telinga dan mata, campak juga dapat membahayakan paru-paru. Anak bisa mengalami pneumonia bahkan harus mendapat bantuan ventilator untuk bernapas.
“Bayangkan, 86 persen dari pasien campak yang meninggal itu disebabkan oleh pneumonia,” ujarnya.
Dengan kata lain, penyakit campak tidak boleh dianggap sepele. Termasuk sengaja mendekatkan anak dengan anak lain yang sedang sakit agar tertular. Perlindungan terbaik adalah dengan melengkapi imunisasi anak sesuai jadwal dan usianya.
Gejala Khas Campak
Ketua IDAI Jawa Barat itu menambahkan, ada satu gejala khas campak yang tidak ditemukan dalam penyakit lain. Gejala ini terkait dengan ruam. Memang ruam kerap ditemukan di beberapa penyakit lainnya, tapi ruam campak berbeda. Ruam campak cenderung berawal di lokasi kulit dekat rambut.
“Ruam yang khas pada campak, the one and only hanya campaklah yang ruamnya itu biasanya mulai dari kulit dekat rambut. Makanya kita suka periksa di belakang telinga. Kemudian dia akan menyebar ke batang tubuh barulah dia ke lengan, tungkai,” Anggraini.
Setelah menyebar, ruam campak semakin mengumpul, menggelap, kemudian hilang dengan tampak bersisik.
“Satu-satunya demam ruam model seperti itu ya kepunyaan campak,” tambah Anggraini.
Anak yang kena campak kerap mengalami batuk pilek, mata merah, tidak enak badan, demam tinggi, bibir kering, rewel, dan mudah marah.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI itu menegaskan, campak bukan sekadar demam yang disertai ruam. Campak adalah penyakit infeksi yang bisa memicu beragam komplikasi. Termasuk infeksi telinga, diare, pneumonia, kerusakan mata, dehidrasi, masalah paru, hingga kematian.




