Kemandirian Penyandang Disabilitas di Jayapura: Dari Bengkel hingga Penjualan Pinang
Portal Media Online - Jayapura, Jubi – Keterbatasan fisik bukan sebuah penghalang untuk hidup mandiri. Kisah Muhammad Munawir Syamsuddin dan Gerard Rumbewas menjadi bukti. Cerita tentang seorang penyintas kecelakaan kerja yang kini berdaya melalui bengkel tambal ban. Dan legenda angkat berat peraih medali yang kini bertahan hidup dengan berjualan pinang. Keduanya menjadi potret nyata perjuangan martabat penyandang disabilitas.
Di tepi jalan dekat lampu merah pertigaan Hamadi Gunung, Kota Jayapura, bunyi mesin kompresor dari sebuah bengkel kecil sesekali terdengar di antara suara kendaraan yang lalu lalang. Di sana, tampak seorang pria dengan gerak yang cekatan, namun bertumpu pada satu kaki palsu, sedang sibuk memeriksa ban motor pelanggan.
Ia adalah Muhammad Munawir Samsudin, pria kelahiran Biak, 13 Agustus 1988, yang memilih tidak menyerah pada keadaan, setelah kecelakaan kerja merenggut fungsi satu kakinya.
Munawir sudah terbiasa bekerja keras. Sebelum membuka bengkel tambal ban, ia punya pengalaman bekerja di sebuah perusahaan, bahkan juga pernah menjadi penyiar radio swasta di Biak.
“Dulu, saya bekerja cukup lama di sebuah perusahaan PT di Biak, sekitar 4 tahun. Saya ditempatkan di bagian logistik, baik lapangan maupun perkantoran. Saya juga pernah menyiar di radio swasta,” kenangnya.
Kariernya sempat menanjak saat ia ditarik menjadi asisten operator karena fleksibilitasnya di kantor. Di sana, ia belajar hampir semua hal, termasuk mengoperasikan alat berat.
Namun, nasib berkata lain. Pada 2016, saat sedang mengoperasikan forklift, ia mengalami kecelakaan kerja. Peristiwa itu menjadi titik balik kehidupannya.
“Proses pemulihannya sangat lama, termasuk pemasangan kaki palsu. Sayangnya, waktu itu pihak perusahaan tidak bertanggung jawab atas musibah yang saya alami,” ujar anak bungsu dari delapan bersaudara itu, kepada Jubi, Rabu (25/2/2026).
“Untungnya, saya dibantu Yayasan Buddha Tzu Chi (Andy) hingga akhirnya saya bisa mendapatkan kaki palsu,” ujarnya.
Membuka bengkel sebenarnya bukan rencana awal Munawir. Sambil menunggu panggilan kerja setelah pulih, ia sering menghabiskan waktu di bengkel milik mertuanya untuk membantu mengawasi karyawan.
“Jujur, awalnya saya tidak ada niat sama sekali untuk buka usaha tambal ban. Tapi karena keadaan dan rasa bosan kalau tidak ada kegiatan, saya mulai memperhatikan cara kerja mereka,” katanya.
Dari memperhatikan, ia mulai belajar secara otodidak. “Oh, ternyata saya bisa juga ya,” pikirnya saat itu.
Kini, bengkel mandiri yang ia kelola sudah berjalan selama tiga tahun. Modal awalnya dibantu oleh seorang teman. Bengkel itu menjadi tumpuan hidup untuk menafkahi istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Anak pertamanya berusia lima tahun dan si bungsu masih bayi.
“Kurang lebih sudah tiga tahun saya buka bengkel, ada bantuan juga dari teman atlet,” ujarnya.
Pantang dikasihani
Motivasi Munawir untuk bekerja keras sering kali datang dari kritikan keluarganya sendiri. “Kakak saya bilang, ‘Aduh, kamu ini anak bungsu tidak tahu kerja, tahunya hura-hura saja.’ Nah, di situ motivasi saya,” katanya.
Baginya, kritik harus diterima dengan cara yang baik agar menghasilkan sesuatu yang positif. Prinsip hidupnya sederhana, selalu bersyukur dan tidak menyia-nyiakan kesempatan.
“Pertama itu rasa syukur. Rasa syukur apa yang ada dalam kita punya diri, itu yang kita kembangkan. Kedua, tidak boleh melewatkan atau memanfaatkan kesempatan yang ada. Harus di mana ada celah, di situ gas,” ujarnya.
Kemandirian Munawir sempat mendapat apresiasi langsung dari mantan Menteri Sosial Tri Rismaharini.
“Menteri Ibu Risma yang langsung kasih bantuan, jabat tangan langsung sama saya. Beliau cuma sampaikan: ‘Jaga barang yang dikasih dengan dirawat.’ Sampai sekarang saya pegang itu,” ceritanya.
Munawir paham bahwa bantuan pemerintah hanya berupa fasilitas stimulan, sisanya adalah kerja keras pribadinya.
Setiap hari, dari pukul sembilan pagi hingga sembilan atau sepuluh malam, Munawir setia melayani pelanggan. Ia melayani tambal ban biasa, tubeless, hingga ganti ban dalam dan luar. Meski kondisinya terbatas, ia menolak untuk dikasihani.
“Kalau mereka tambal ban terus kasih harga, terus dia kasih lebih, saya tanya dulu, ‘Pak, ikhlas atau tidak?’ Saya tidak suka dikasihani. Kalau saya tidak suka, saya kasih kembali uang itu. Saya lebih puas dengan hasil karya sendiri,” kata pria yang pernah mengenyam pendidikan S1 Ilmu Hukum itu.
Bagi Munawir, kegigihannya hari ini juga merupakan cara untuk memberikan pesan kepada generasi muda. Setiap kali anak-anak muda bertanya kondisi kakinya, ia selalu menjawab itu dialaminya karena balapan.
“Supaya anak-anak stop balap liar. Saya bilang kaki saya patah gara-gara balap agar mereka takut dan berhenti,” katanya.
Selain dikenal sebagai tukang tambal ban yang andal, Munawir juga atlet yang bernaung pada organisasi olahraga penyandang disabiltas National Paralympic Committee Indonesia (NPCI).
Ia terjun di cabang atletik nomor tolak lempar, meliputi cakram, peluru, dan lembing. Keinginannya menjadi atlet adalah impian lama yang baru terwujud setelah ia menyandang disabilitas.
“Dulu banyak teman-teman atlet disabilitas yang datang ke saya, baru tawarkan saya masuk jadi atlet. Akhirnya tidak lama kemudian saya bergabung dengan NPCI. Untuk tambah kesibukan juga, terus impian satu-satunya saya dulu juga ingin jadi atlet,” katanya.
Jualan pinang untuk bertahan hidup
Beberapa kilometer dari bengkel Munawir, tepatnya di pangkalan ojek Melati, Kotaraja, terlihat pemandangan lain. Di sana duduk Gerard Rumbewas di atas kursi rodanya, seorang pria dengan keterbatasan pada kedua kakinya yang ia alami sejak berusia dua tahun.
“Saya waktu lahir normal. Pas umur 2 tahun baru mulai belajar jalan, tiba-tiba kena panas tinggi. Waktu itu dibawa ke Puskesmas dan disuntik. Setelah itu, saya tidur istirahat. Pas bangun mau minum air dan coba jalan, langsung jatuh-jatuh terus,” kenang Gerard.
Ia tampak sibuk merapikan tumpukan pinang di atas meja keramik, tepat di sebelah pangkalan ojek. Ia berjualan pinang untuk bertahan hidup demi menafkahi istri dan anaknya.
Gerard bukan orang sembarangan. Namanya tercatat dalam sejarah olahraga difabel Papua sebagai atlet angkat berat berprestasi. Namun, saat jadwal latihan sedang kosong atau kompetisi belum dimulai, ia kembali ke jalanan sebagai penjual pinang.
“Iya, setiap hari saya memang harus jualan. Jualan supaya bisa sedikit-sedikit tambah untuk kebutuhan makan. Apalagi saya punya anak dan istri juga di Merauke. Anak perempuan saya sudah kelas 2 SMP,” kata Gerard.
Ia sudah lama berjualan pinang, sejak 2008. Sebelum di pangkalan ojek Melati yang dekat dengan tempat tinggalnya, ia pernah berjualan di lampu merah, namun tidak lagi mendapat izin dari yang punya tempat.
“Setelah pulang tanding dari Solo kemarin, saya mau balik jualan di tempat yang lama, tapi yang punya tempat sudah tidak kasih izin lagi. Akhirnya saya pindah ke pangkalan ojek Melati,” ujarnya.
Rutinitas berjualan sudah ia lakoni. Sejak kecil, ia bersama saudaranya sering membantu orang tuanya untuk berjualan roti keliling di area kompleks.
” ulu Mama bikin roti, terus kami yang jajakan di dalam kompleks. Jadi memang sudah biasa mandiri,” ujarnya.
Perjalanannya menjadi atlet dimulai pada 2007, saat ia sedang berjualan keliling dan main gitar di pinggir jalan. Ketua NPCI Papua, Jaya Kusuma yang saat itu masih menjabat sebagai Kadistrik memperhatikannya dan menawarkannya menjadi atlet ketika NPCI masih bernama Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC). Setelah mendapat restu orang tua, Gerard mulai berlatih di Stadion Mandala.
Prestasinya tidak main-main. Pada ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Samarinda 2008, ia meraih medali perunggu pertamanya dengan angkatan kelas 100 kg ke atas.
Koleksi medalinya terus bertambah, mendapatkan medali perunggu di Riau pada 2012, perunggu di Jawa Barat pada 2016, medali perak di Papua pada 2021, dan dua medali di Solo pada 2024.
“Puji Tuhan, itu luar biasa memang. Berangkat pulang pergi, orang tua ingat itu, orang tua bilang pergi mencari, tapi pulang bawa hasil. Kita berusaha betul-betul selama latihan,” ujarnya.
Meski sudah menjadi ‘legenda’ di kelasnya, kondisi ekonomi tetap menuntutnya untuk bangun jam dua pagi setiap hari guna menyiapkan dagangan. Penghasilan hariannya tak menentu, berkisar antara Rp30.000 hingga Rp40.000.
“Kadang harga pinang mahal, beli Rp70.000 di pasar. Kalau tidak habis, simpan lagi buat besok. Yang penting sabar, harus tetap jualan toh. Puji Tuhan, tetap bersyukur masih bisa makan tiap hari,” katanya.
Setiap hari, Gerard harus menggerakkan kursi rodanya puluhan meter dari rumah hingga ke tempat ia berjualan. Ia sering dibantu keponakannya untuk diantar ke pangkalan, kadang juga harus bergerak sendiri meski ia selalu khawatir jatuh dan mencederai lututnya.
“Lumayan jauh dari rumah tapi mau bagaimana. Kadang-kadang saya sendiri, kadang keponakan yang antar. Kita takut jatuh toh, yang saya takut itu lutut ini. Mau pakai tongkat lagi saya takut nanti jangan sampai jatuh atau terbentur apa lagi, aduh repot, saya setengah mati,” katanya ketawa.
Harapan masa depan disabilitas
Munawir, dengan latar belakang pengalaman magang di berbagai tempat, mengeluhkan sistem pelatihan pemerintah yang sering kali hanya berakhir pada seremonial tanpa kelanjutan.
Ia menceritakan pengalamannya saat mengikuti pelatihan dari PLN yang menurutnya sangat ideal karena bersifat terarah.
“Bagus sekali programnya. Dari 10 orang peserta, disaring menjadi 5 orang, hingga akhirnya terpilih 3 orang terbaik yang ditawarkan untuk magang atau modal usaha. Munawir sendiri termasuk dalam tiga orang yang mendapatkan bantuan modal. Sistemnya itu monitoring. Bukan cuma asal kasih. Nanti tiap bulan dia cek lagi, melihat perkembangan begitu,” katanya.
Munawir berharap model seperti itu bisa diadopsi oleh pemerintah. Ia merasa selama ini banyak pelatihan yang sia-sia karena tidak ada koordinasi lebih lanjut.
“Harapan saya, ya itu tadi. Pertama khusus dari pemerintah buat pelatihan yang betul-betul. Artinya saya sudah banyak juga ikut pelatihan yang kebanyakan sebelum-sebelumnya itu, setelah selesai ya habis begitu saja. Ilmunya tidak dimanfaatkan,” keluhnya.
Ia mengusulkan agar pelatihan harus terintegrasi dengan dunia kerja atau pemberian modal yang dipantau ketat.
“Bukan dikasih uang tunai, tapi langsung dibelikan barang atau alat kerja. Karena dikhawatirkan kalau uang tunai, teman-teman jadi tidak produktif. Saya ingin kita semua bisa mandiri, tidak ketergantungan, uang habis, minta lagi,” ujarnya.
Munawir juga menaruh perhatian besar pada organisasi atlet disabilitas (NPCI). Sebagai atlet yang terjun di cabang atletik nomor tolak lempar, ia menyuarakan perlunya pembinaan rutin yang berkelanjutan.
”Pembinaan rutin itu perlu dilakukan. Regenerasi harus diciptakan dengan melibatkan para senior sebagai pembimbing. Contoh yang kita lihat sendiri di depan mata ini kayak Gerard Rumbewas. Gerard itu kan sudah tidak ada penerusnya, harusnya dia dijadikan pelatih atau minimal asisten supaya regenerasinya ada,” ujarnya.
Gerard Rumbewas juga punya sebuah mimpi besar untuk mendapatkan satu tempat khusus bagi para penyandang disabilitas yang menjalankan usaha kecil, agar mereka memiliki wadah ekonomi yang terpadu.
“Harapan saya bisa dapat tempat satu untuk kita bisa berkumpul, teman-teman disabilitas untuk bikin usaha masing-masing. Siapa punya bidang-bidang masing-masing, jadi bikin itu hasilnya itu yang bisa dijual di satu tempat pameran atau apa, supaya bisa laku. Itu harapan saya,” kata Gerard.
Keterbatasan pemerintah
Kemandirian yang ditunjukkan Munawir dan Gerard menjadi tantangan tersendiri bagi instansi pemerintah di Kota Jayapura. Dinas Sosial (Dinsos) Kota Jayapura mengakui adanya keterbatasan dalam ruang gerak pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas akibat perubahan regulasi dan anggaran.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura Matius Pawara menjelaskan bantuan yang ada saat ini lebih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar dan alat bantu.
“Terkait untuk bantuan sosial yang ada di Dinas Sosial ke masyarakat, memang kami peruntukkan kepada lansia, disabilitas, ODGJ, anak terlantar, anak yang bermasalah hukum, kemudian pekerja rentan,” kata Matius.
Namun, ia secara terbuka menyebutkan bahwa fungsi pemberdayaan usaha kini tidak lagi melekat sepenuhnya di instansinya.
“Pemberdayaan memang itu tidak ada ya, terkait dengan usaha-usaha. Karena, pertama, memang untuk pemberdayaan baik lansia, disabilitas, anak jalanan, penyakit HIV/AIDS, dan narkoba, itu memang sudah tidak ada di kami. Jadi bentuknya hanya dalam bentuk pemberian makan, sandang, dan alat bantu,” ujarnya.
Matius menambahkan, perampingan ruang kegiatan tersebut merupakan arah kebijakan dari kementerian pusat. Dampaknya, bantuan modal atau pemberdayaan ekonomi yang sempat ada tiga sampai empat tahun, lalu kini menghilang dari nomenklatur program.
“Contoh untuk pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang berkebutuhan khusus, nomenklatur seperti itu sudah tidak ada. Jadi memang dalam bentuk bantuan saja untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan,” ujarnya.
Meski demikian, Dinsos tetap mengupayakan langkah kecil. Tahun ini, ada sekitar 6 hingga 10 penyandang disabilitas yang diikutkan dalam pelatihan komputer. Ke depannya, Dinsos berencana memperkuat kolaborasi dengan instansi lain.
“Kami akan berupaya tetap, baik ke Dinas Tenaga Kerja, Dinas Perdagangan, maupun instansi lain yang bisa menggunakan tenaga kami yang masih produktif,” kata Matius.
Ia mencontohkan potensi disabilitas di Polimak yang membuat sapu atau kerajinan tangan lansia yang bisa dipasarkan melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop).
”Kami upayakan kalau memang mereka bisa membuat kerajinan tangan yang bagus, kemudian kita dukung pemasarannya, kenapa tidak?” ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Kota Jayapura Alberto Fred Itaar menyebutkan instansinya fokus pada pembinaan pelaku usaha kecil agar mampu mandiri secara ekonomi.
”Kami dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM memang fokus pada pembinaan UMKM,” kata Alberto.
Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam membina UMKM adalah konsistensi pelaku usaha.
“UMKM kita ini jika hanya diberi sosialisasi hari ini lalu ditinggal, besok biasanya kembali lagi ke pola lama. Motivasi untuk majunya harus terus dipicu,” ujarnya. (*)




