Trump Hubungkan Serangan ke Iran dengan Dugaan Campur Tangan Pemilu 2020
Portal Media Online - WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut mengaitkan serangan besar yang ia perintahkan terhadap Iran dengan klaim lamanya mengenai kekalahan dalam pemilu 2020.
Keterkaitan itu muncul dalam unggahan media sosialnya yang menyinggung dugaan campur tangan Teheran dalam pemilu AS.
Ini menjadi operasi militer kedua di mana Trump mengaitkan tindakan militer dengan narasi seputar hasil pemilu 2020. Sebelumnya, ia juga membuat komentar serupa saat memerintahkan operasi terhadap presiden Venezuela.
Dalam unggahannya di platform media sosial Truth Social, Trump menulis, “Iran mencoba ikut campur dalam pemilu 2020 dan 2024 untuk menghentikan Trump, dan sekarang menghadapi perang baru dengan Amerika Serikat.”
Ia juga membagikan tautan ke artikel dari media daring pro-Trump, Just the News, yang memuat judul serupa.
Dugaan campur tangan pemilu 2020 dan 2024
Artikel yang dibagikan tersebut melaporkan bahwa “rezim Iran pada 2020 berupaya melemahkan pencalonan kembali Presiden Trump, dan Joe Biden memenangkan pemilu tersebut.”
Laporan itu juga menyebut bahwa pada 2024 Iran melakukan berbagai upaya campur tangan pemilu dan bahkan percobaan pembunuhan.
Disebutkan pula bahwa setelah 2018 Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama — Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) — serta menetapkan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris.
Sementara itu, intelijen Iran mencoba menghalangi terpilihnya kembali Trump dengan taktik seperti mengirim email palsu.
Media tersebut juga mengutip penilaian yang dirilis pada 2024 oleh Office of the Director of National Intelligence (ODNI) yang menyatakan bahwa “aktor siber Iran menggunakan data lebih dari 100.000 pemilih (selama periode pemilu 2020) untuk operasi yang menyamar sebagai Proud Boys (kelompok sayap kanan).”
Dalam pemilu 2024, laporan itu menyebut peretas Iran tidak hanya mengirimkan materi rahasia yang dicuri dari kampanye Trump ke media, tetapi juga bahwa IRGC berada di balik rencana pembunuhan yang menargetkannya.
Pernyataan bersama pada Agustus tahun tersebut dari Federal Bureau of Investigation (FBI), ODNI, dan Cybersecurity and Infrastructure Security Agency di bawah Department of Homeland Security menyatakan, “kami mengamati aktivitas Iran yang semakin agresif dalam siklus pemilu ini.”
Penjelasan awal soal serangan
Lihat Foto
Sebelumnya, dalam pesan video yang dirilis segera setelah serangan dimulai, Trump membatasi penjelasannya atas keputusan menyerang Iran pada risiko terkait upaya negara itu mengejar senjata nuklir.
Ia berargumen, “Mereka menempatkan Amerika Serikat, pasukan kami, pangkalan luar negeri, dan sekutu di seluruh dunia dalam bahaya langsung.”
Trump juga sempat membuat komentar serupa pada Januari lalu, beberapa hari setelah ia memerintahkan operasi Delta Force terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, di Venezuela.




