Koalisi Global Kembangkan Keamanan 6G Hadapi Ancaman Siber dan Komputasi Kuantum
Portal Media Online - Marketing.co.id – Berita Digital | Penerbitan prinsip keamanan dan ketahanan untuk teknologi 6G oleh Global Coalition on Telecoms (GCOT) menandai perubahan penting dalam cara pemerintah memandang infrastruktur telekomunikasi generasi berikutnya. Alih-alih sekadar peningkatan teknologi jaringan, keamanan 6G kini diperlakukan sebagai bagian dari perlindungan infrastruktur kritis dan ketahanan nasional.
Koalisi yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jepang, Kanada, serta Finlandia dan Swedia tersebut mewakili negara-negara yang berperan besar dalam membentuk standar telekomunikasi global sekaligus mengoperasikan beberapa jaringan seluler paling maju di dunia. Melalui pendekatan terkoordinasi, negara-negara ini ingin memastikan bahwa pengembangan 6G sejak awal sudah dibangun dengan kerangka keamanan yang kuat.
CEO dan Co-Founder Keeper Security Darren Guccione mengatakan bahwa prinsip yang dirilis GCOT menegaskan tujuan utama keamanan sistem 6G di masa depan, yaitu containment, kerahasiaan, integritas, ketahanan, dan kepatuhan terhadap regulasi.
Dalam praktiknya, prinsip tersebut berarti jaringan 6G harus dirancang agar mampu membatasi penyebaran serangan siber di dalam sistem. Selain itu, jaringan juga harus menjaga integritas data, menyediakan antarmuka eksternal yang aman, serta memastikan proses autentikasi berkelanjutan antara berbagai fungsi jaringan.
Pendekatan ini mencerminkan pergeseran industri menuju arsitektur zero-trust, di mana setiap perangkat, layanan, dan beban kerja harus melalui proses otentikasi dan otorisasi sebelum dapat berinteraksi dengan sistem yang sensitif atau kritis.
Panduan GCOT juga menyoroti pentingnya pengamanan rantai pasok teknologi, visibilitas menyeluruh di seluruh lapisan jaringan, serta mekanisme failover yang kuat. Dalam skenario gangguan atau serangan siber, jaringan diharapkan mampu secara otomatis mengalihkan lalu lintas ke jalur atau jaringan alternatif agar layanan tetap berjalan.
Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan berbagai kerangka regulasi yang tengah berkembang secara global, seperti EU NIS2 Directive, kerangka keamanan telekomunikasi Inggris yang ditegakkan oleh Ofcom, serta berbagai inisiatif ketahanan jaringan yang dipimpin oleh Federal Communications Commission (FCC) di Amerika Serikat dan mitra di kawasan Indo-Pasifik.
Selain itu, GCOT juga menekankan pentingnya pendekatan security-by-design dalam pengembangan 6G. Hal ini berkaitan dengan munculnya ancaman baru, termasuk serangan siber berbasis kecerdasan buatan serta potensi risiko terhadap sistem kriptografi akibat perkembangan komputasi kuantum.
Dengan semakin banyak fungsi jaringan yang tervirtualisasi, terdisagregasi, dan bersifat AI-native, identitas digital kini menjadi perimeter keamanan baru. Dalam ekosistem jaringan berbasis perangkat lunak ini, pengelolaan identitas manusia, mesin, hingga agen AI akan menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan jaringan dalam skala besar.
Oleh karena itu, penerapan tata kelola identitas yang kuat, kontrol akses berbasis prinsip least privilege, serta pengembangan kriptografi yang tahan terhadap komputasi kuantum perlu diintegrasikan ke dalam standar 6G sejak tahap awal.
Menurut Guccione, langkah tersebut penting agar generasi berikutnya dari jaringan seluler tidak hanya dibangun dengan teknologi yang lebih cepat dan canggih, tetapi juga berdiri di atas fondasi kepercayaan dan keamanan yang kokoh sejak awal.




