Bursa Asia Melemah, Harga Minyak Tembus US$ 90 akibat Konflik Timur Tengah
Internasional

Bursa Asia Melemah, Harga Minyak Tembus US$ 90 akibat Konflik Timur Tengah

Portal Media Online - Bursa saham Asia mengalami pelemahan pada perdagangan Senin (20/7/2026) seiring meningkatnya konflik di kawasan Teluk yang mendorong harga minyak mentah menembus US$ 90 per barel, sehingga menimbulkan kekhawatiran inflasi kembali muncul.

Awal Kejadian

Kenaikan harga minyak mencuat setelah militer Amerika Serikat melakukan serangan ke Iran untuk hari kesembilan berturut-turut. Sebagai respons, Iran menyerang sejumlah target di kawasan, yang berdampak pada terganggunya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Pada hari Minggu, hanya sedikit kapal yang berhasil melintasi jalur tersebut, dan sebuah kapal dilaporkan terbakar.

Perkembangan

Harga minyak mentah Brent tercatat naik 2,6% menjadi US$ 90,40 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,3% menjadi US$ 84,39 per barel. Lonjakan harga ini meningkatkan risiko terhadap pasar energi, dengan analis memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, harga minyak bisa naik mencapai US$ 150 per barel. Hal ini diperkirakan akan berpengaruh pada inflasi, meskipun data inflasi konsumen Amerika Serikat pekan lalu menunjukkan hasil yang lebih rendah dari ekspektasi.

Kondisi Terakhir

Pasar berjangka memperkirakan total kenaikan suku bunga Federal Reserve sekitar 29 basis poin hingga akhir tahun. Peluang kenaikan suku bunga semakin besar, dengan pasar memperkirakan sekitar 60% kemungkinan untuk kenaikan suku bunga pada bulan September. Sektor teknologi juga mengalami tekanan, di mana valuasi saham-saham AI dan semikonduktor mulai dipertanyakan. Bursa Asia dan Eropa mencatatkan penurunan, di mana indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang melemah 0,3%. Lonjakan harga minyak ini menjadi tantangan bagi Bank Sentral Eropa yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di 2,25% pada rapat kebijakan mendatang.

You can share this post!